Friday, April 24, 2015

Pelestarian ala Record Store Day



18 dan 19 April 2015 lalu, menjadi hari yang diperingati oleh seluruh kalangan penggiat rilisan musik secara fisik di seluruh dunia yang dikenal sebagai Record Store Day. Sebagai warga Yogyakarta saya cukup senang karena tahun ini kembali digelar (karena tahun lalu tidak digelar bertepatan dengan waktu yang sama secara internasional; dan mundur seminggu dan berjudul Record Store Djogja) dan tahun ini bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta.

Tahun ini beberapa label di Jogja mengeluarkan rilisan, salah satu yang saya kenal adalah Summer in Vienna yang merilis album Shallow Lagoon Holidays dalam bentuk kaset. Mereka juga tampil live pada acara tersebut; selain itu juga ada Sulfur dan Sabarbar. 

Summer in Vienna
Terdapat beberapa record store independen yang ikut buka lapak dalam acara ini. Hal yang cukup menarik untuk mencari rilisan fisik yang kita suka, kadang juga adu cepat dengan pengunjung lain. Satu catatan, saya bukan penggemar vinyl. Ada beberapa alasan mengapa saya “menghindari” vinyl: harus beli turntable (yang bagus minimal 1,5 jutaan lah); vinyl-nya sendiri 200 ribuan ke atas, belum lagi buat band band keren macam Slowdive yang harganya bisa diatas 500; ada yang bilang kalo dengerin vinyl paling enak ada waktu khusus atau semacam “me time”, dan waktu saya mungkin gak ada. Jadi sebisa mungkin saya hindari agar tidak terjebak dan kemudian ‘bablas’ dan ketagihan memenuhi hasrat beli PH.
Tapi FYI, saya punya satu PH yang merupakan ‘hadiah’ gara gara jadi first customer pada Cassette Store Day tahun lalu. Cukup geli karena PH itu saya biarkan di rak.

Kembali ke event tadi, saya langsung membuka mata lebar-lebar untuk menerawang rilisan apa yang menarik. Mata saya langsung berhenti ketika melihat kaset Komunal yang Panorama, tapi sayang dia jual sepaket sama CD Hitam Semesta dan Gemuruh Musik Pertiwi yang saya sudah punya, harganya pun lumayan menguras kocek. Saya pun urungkan niat.
Kemudian saya kembali berkeliling, saya melihat kaset Mesin Waktu, tribute kepada Naif rilisan Aksara yang masih keadaan segel. Harganya lumayan, masih standar jika dibanding yang jual di berbagai forum FB. Kemudian saya lanjut berkeliling dan singkat kata saya menemukan kaset Silverchair – Neon Ballroom secondhand yang masih oke lah dan juga CD Santamonica yang ternyata setelah saya browsing, harganya sama dengan pertama kali dirilis 8 tahun lalu. Cukup beruntung, karena saat ini sudah ada yang jual 2-3 kali harga awal. Kemudian saya melihat ada yang menjual CD DOM 65, saya kira sudah tidak ada yang jual CD salah satu band legendaris Jogja ini. Tentu saja, saya juga membeli rilisan kaset Summer in Vienna, yang membuat saya terkejut adalah di sebelahnya dijual juga kaset Anamnesis-nya Melancholic Bitch. Open segel memang, dan jumlahnya cukup banyak dan sudah lama disimpan di gudang kalo kata mas Menus. Kalau saya punya mental dagang dan sedikit “nakal”, pasti sudah saya beli banyak dan saya jual lagi dengan harga yang kurang masuk akal. Hehehe.

Silverchair - Melbi - Summer in Vienna - Mesin Waktu - WSATCC

Dom 65 - Santamonica
Namun yang saya cari ternyata tidak ada, yaitu rilisan kaset milik Rabu. Cukup mengherankan karena bahkan Jogja tidak mendapat jatah yang notabene adalah mereka berasal dari Jogja (Bantul). Hal ini juga yang membuat saya cukup geleng-geleng kepala. Senang memang, ketika perayaan di Indonesia sudah menjadi lebih mendapat tempat di masyarakat, terutama di Jakarta. Apapun motivasinya. Banyak rilisan yang cukup membuat ngiler untuk disikat, seperti kaset Marsh Kids (yang akhirnya sold out), Morfem, The Experience Brothers, Speedkill, The Upstairs dan L’Alphalpha, untuk CD ada The Upstairs dan The Milo yang cukup menggoda.
Jika melihat foto antrian sudah bisa menggambarkan betapa antusiasnya masyarakat. Sekali lagi, apapun alasannya, tapi satu hal yang saya tidak suka adalah penggunaan kata ‘hipster’ oleh salah satu media online yang juga mengulas perayaan ini. Entah apa pengertian hipster secara real? Mungkin saja saya hipster, kamu hipster? Tidak jelas. Satu hal yang jelas, mereka yang antri tadi merupakan mesin bagi keberlangsungan label-label independen di Indonesia.
Namun satu hal yang perlu diantisipasi adalah: penimbun. Mereka sengaja beli/ antri untuk memborong rilisan yang sekiranya banyak penggemar dan kemudian menjual lagi di lain hari dengan harga yang sudah meroket. Saya prediksi, rilisan The Upstairs mungkin akan dijual mahal beberapa minggu kedepan. Tapi ya itu tadi, semakin ‘eksklusif’ akan semakin mahal. (jadi ingat ada yang pernah jual kaset The Sastro 100ribu padahal di sebelahnya ada orang FFWD jual dengan harga normal hihihi)

Satu hal lagi, RSD di Jakarta disponsori oleh produk rokok dan dibatasi umur 18+ untuk bisa masuk ke acara. Suatu acara yang besar tentu butuh dana, namun menurut saya pribadi sangatlah tidak bijak untuk memilih produk rokok sebagai sponsor, apalagi dengan membatasi usia. Saya juga membaca komentar ada yang mengeluh akibat tidak bisa mengajak anaknya untuk datang ke acara tersebut.

Kembali ke media online tadi, penulis mengakatakan adanya kekhawatiran terhadap label besar yang berturut serta dalam acara RSD. Menurut saya sih sah sah saja misalnya ada Sony Music atau Universal yang turut memeriahkan acara tersebut. Menurut pandangan pribadi saya, meskipun musik adalah hal yang bisa dinikmati semua orang, namun tetap ada segmentasinya. Seperti festival musik metal, orang-orang ada yang pengen nonton band Heavy Metal, ada yang pengen nonton Black Metal, tapi ada juga yang bisa menyesuaikan dengan situasi. Jadi, semisal label besar merilis piringan hitam band semisal Noah atau Ungu, yang akan beli siapa? Yang pertama jelas penggemar mereka. Bahkan saya yakin penggemar mereka masih lebih suka download (bahkan illegal) daripada membeli rilisan fisik. Lihat saja Maliq & D’Essentials atau D’Masiv yang merilis piringan hitam, dan responnya tidak ‘seheboh’ ketika vinyl Mocca atau Burgerkill dirilis. Tidak perlu ada kekhawatiran. Kemudian jika ada KFC atau sebagainya menjadi media penjualan/ promosi CD band tertentu, menurut saya itu adalah bentuk kepanikan bahwa rilisan fisik mereka di toko musik bahkan tidak laku. Saya juga yakin, orang yang membeli ayam goreng dan dapat bonus CD juga belum tentu mendengarkannya. Berbeda dengan band-band indie yang saya yakin masih sangat ditunggu penggemarnya di setiap rilisan.

Mungkin teman-teman di Jakarta tidak tahu, bahkan di Yogyakarta musik dengan label besar yang bernaung di toko semacam Bulletin sudah tidak ada. Sedangkan toko sebesar DiscTarra, sudah mulai keropos. DiscTarra yang ada di Gramedia Sudirman, kini tinggal jualan DVD film dan DiscTarra Malioboro Mall sudah tutup. Sekarang tinggal Ambarukmo Plaza, entah sampai kapan akan bertahan? Masih khawatir dengan monopoli label besar? Mungkin di Jakarta diselenggarakan secara masif untuk perayaan RSD, maka syukurilah itu, karena kami yang ada di sini dan masih mencintai rilisan fisik sungguh memiliki keterbatasan akses itu. Salam rilisan fisik!

Monday, March 30, 2015

Penilaian Prematur



Halo amigos, tidak terasa tahun 2015 sudah mendekati bulan April. Kali ini saya akan memposting suatu tulisan yang cukup terdengar absurd dan terkesan delusional.

Berawal dari sebuah gambaran saya di buku catatan kuliah, yang selalu saya isi dengan ilustrasi ketika saya merasa jengah dengan materi kuliah. Kemudian ada teman saya yang penasaran dengan gambar saya tadi dan ingin melihatnya. Tentu saja saya menolak untuk memperlihatkannya, toh ini cuma sekedar iseng. Kemudian akhirnya saya memperbolehkan dia untuk melihatnya. Lalu dia langsung berkomentar: “doodle!” … “seperti instagramnya si X”.

Kemudian teman saya itu memperlihatkan instagram “temannya” itu (yang padahal adalah kepo-an-nya) dengan menggunakan…. hape saya, karena dia lupa bawa hape. Kemudian dia menceritakan asal usul “temannya” itu, siapa dia, jurusan apa, dsb. Jujur saja saya kurang tertarik dengan orangnya, tapi ilustrasinya saya bilang oke juga. Sehingga hal itu membuat saya kepo lebih lanjut instagram-nya (iya, saya lebih sering kepo stranger dengan karya karya yang ciamik).

Nah, dari salah satu postingan “temannya” teman saya tadi, ada satu hal yang membuat saya menjadi kepo lebih jauh. Yaitu temannya “temannya” teman saya, mari kita sebut saja si Y.
Si Y ini ternyata juga suka bikin ilustrasi. Hal yang sama yang membuat saya tertarik untuk mengulik lebih jauh. Kemudian tingkat keingintahuan saya lebih far far away dari Star Wars. Setelah saya lihat instagram dan kepo blognya, saya cukup terkesan. Bahkan sangat terkesan. Tulisannya sangat menarik, terutama kepribadiannya (yang secara ngawur saya terjemahkan sendiri-red mutusi). Selera film dan musiknya asik. Dan dari hal-hal itu, ada satu hal yang mengusik pikiran saya.

I don’t know, terlalu prematur bagi saya mengatakan bahwa ada orang di luar sana yang memiliki “keanehan” dalam dirinya seperti saya. Seorang yang naif yang kadang terlalu lelah dengan kehidupan dunia ini. Seseorang yang bisa terlihat akrab atau pun ceria dihadapan orang banyak, namun tetap menyimpan “kekakuan” di dalam dirinya. Orang yang ternyata gak terlalu happy dan enjoy dengan kuliahnya. Dan beberapa lagi hal yang mungkin sama, namun tiba-tiba saya lupa apa yang akan saya tulis.
Ya, saya suka mengagumi tulisan orang, tanpa melihat siapa dia, apalagi ada ketika ada kesamaan pendapat di sana.

Sudah saya bilang dari awal. Tulisan ini tidak lebih dari sebuah tulisan yang absurd, akan kekaguman terhadap stranger. Mohon maaf atas kekecewaan pembaca. 
P.S. Adobe