Welcome

Selamat Datang di Blog Gue, Eric Setyo Nugroho.
Semoga Beberapa Tulisan Gue Bisa membawa perubahan dalam hidup anda.
Jika sudah membaca, tolong beri komentar!!
Gracias !!

Followers

Auman

Get This Recent Comment Widget!

Howl!

Pengunjung Sarang Serigala

Partner in Crime

Kancut Keblenger

Idola Dulu dan Kini



Hello, I’m back again! Kali ini saya bakal bakal sedikit curhat. Bukan curhat tentang cinta cintaan tapinya.
Saya lupa kapan terakhir kali saya ‘menggemari’ ajang pencarian bakat di Indonesia sebelum X Factor. Saya sangat ingat dulu waktu SD saya dan sekeluarga dan mungkin teman teman juga terkena wabah Akademi Fantasi Indonesia (AFI). Saya mengikuti proses eliminasinya tiap minggu, cerita tentang Very AFI yang anak tukang becak, dan jadi juara, dan cerita cerita lain. Entah kenapa, dulu juga sering beli majalah “Gaul” (dan tidak membuat semakin gaul) yang suka ada hadiah posternya dan bahas tentang background para peserta karantina. Dan sejak AFI sudah gak bagus lagi saya gak beli lagi majalah Gaul, yang kata adek saya majalah Gaul sekarang fokusnya bahas Korea-Koreaan.

Tapi di balik hingar binger AFI yang bisa dibilang sukses selama 3 periode, output apa yang bisa ditawarkan? Sekarang saya tanya, berapa orang peserta AFI yang berhasil atau sukses setelah keluar dari AFI? Yang paling terkenal mungkin T2 (Tiwi dan Tika) yang bahkan katanya sekarang udah bubar. Kesalahan terbesar Ind*siar adalah memberikan kontrak yang sifatnya “mengekang” para alumnus AFI. Mengekang? Betapa tidak, para alumnus AFI hanya boleh tempil di acara yang ada di Ind*siar. Misal jumlah 1 season berisi 12 peserta, apakah kesemuanya bakal mendapat jatah tampil yang sama di TV tersebut? Hal tersebut tentu tidak baik untuk karir mereka yang tidak bisa menerima tawaran dari luar dan mau tidak mau menunggu tawaran job dari Ind*siar (saja).
Dan tahukah anda, the awkward moment-nya adalah, Mickey AFI (yang ternyata adalah adiknya Steven dari Steven & the Coconuttreez) pernah ikut audisi (lagi) yaitu The Voice dan tidak lolos. Bahkan Glenn Fredly nanya “kamu Mickey AFI itu kan?”. Apakah sebegitu tidak lakunya alumnus AFI sehingga harus mengikuti ajang lain? Dan kalau anda pernah iseng iseng pindah channel dan tiba tiba menemukan iklan Home Shopping macam Teflon atau alat memasak lain, Mickey menjadi ‘salesman’ nya di situ K

Di sisi lain, pada awal kemunculan Indonesian Idol dari era Delon hingga era Regina dan Sean, saya tidak pernah mengikuti tiap minggunya dan kurang begitu excited. Saya tahu, sekedar tahu namun tidak mengikuti, tapi tiba tiba Joy sudah juara,  tiba tiba Mike sudah juara, dan seterusnya.
Tanpa saya tahu, bahwa orang orang seperti Winda (sinden OVJ, sitkom OB), Gissel (istri Gading, sinden OVJ, pemain FTV), Tiffany (pemain Sketsa Tr*ns TV, host), serta nama nama lain macam Firman, Judika, Ihsan, Mike Mohede, dsb yang punya karir cukup bagus di dunia entertainment di Indonesia.
Tapi bukan berarti Indonesian Idol tidak memiliki cacat, saya memang tidak mengikuti ajang ini dari season 1-6 dan hanya sebagian nonton season 7. Di season 7, kesalahan terbesar ada ketika Yoda masuk. Memang, ketika audisi dia nyanyi lagu “When I See You Smile” bagus banget (dan membuat saya tidak nyaman dengan tiba tiba pada ngetwit #NowPlaying lagu tersebut atau tiba tiba banyak yang request lagu itu di radio). Tapi setalah lagu itu, apa yang terjadi? Nol besar! Banyak nada tinggi yang dia tidak mampu capai, lupa lirik terjadi mungkin gak cuma sekali. Tapi itulah, the power of SMS itu berbicara. Apalagi untuk Non Dhera, yang menurut saya juga gak bagus bagus amat.

Tapi entah kenapa, untuk season ke 8 ini, saya menaruh harapan besar pada peserta. Jujur, saya mengagumi (atau bahkan menjagokan) Muhammad De Virzha yang suaranya mirip mirip Sting dan juga Husein Alatas yang beraliran Middle-East Metal ala ala System of a Down atau kadang cengkok-nya mirip mirip Iron Maiden, meskipun juga saya menaruh respect pada Nowela dan Eza yang selalu tampil keren dengan suaranya yang khas. Yuka Tamada juga punya selera musik yang bagus. Begitu juga Miranti yang terang terangan sebagai fans berat Radiohead (secara subyektif saya harus bilang ini keren). Jangan lupakan juga Sarah, cewek berjilbab ini selalu membawakan lagu yang bisa jadi asik (dan saya tidak setuju kalo harus dibandingkan dengan Fatin, kalo dari segi jilbab silakan bandingkan,tapi kalo suara? Fatin cuma menang sms!). Ada juga Gio yang menurutku keren. Secara keseluruhan saya harus bilang season ini keren, punya selera musik dan pilihan lagu yang bagus bagus. Catatan, untuk Ubay, meskipun wakil Jogja, saya kurang begitu suka ya. Kalo boleh jujur, ada wakil Jogja lain yang menyanyikan Overjoyed-nya Stevie Wonder dan lolos tapi waktu babak elimininasi 1 pun dia tidak muncul. Tidak tahu kenapa.
Tapi apapun itu, yang punya duit yang punya hak untuk menentukan. Saya di sini hanya bisa menonton setiap minggunya para peserta menampilkan lagu lagu yang menurut saya keren :)

NB: tulisan ini bersifat subyektif dan pendapat pribadi, jika tidak berkenan mohon menulis blog sendiri, terima kasih :)

Matinya Kewarasan



Saya cukup terkejut pagi ini ketika salah satu teman saya, Mega, meng-share status Deddy Corbuzier dan salah satu meme dari Meme Comic Indonesia. Yang intinya adalah: Hitam Putih sudah resmi berhenti tayang!
Memang, seperti biasa, selalu nge-scan acara apa yang bagus dengan memindah channel TV ke channel yang lain. Yang biasanya jam 9 ada Hitam Putih tapi ini masih OVJ. Saya cuma berpikir, ‘wah, Hitam Putih tayang jam 6.15 lagi kayaknya’. Ternyata cukup mengejutkan bahwa Hitam Putih memang sudah tidak lagi tayang.

Momen bersama Anu ini mungkin akan dirindukan

Mungkin bisa dibilang ini adalah puncak dari semua spekulasi yang selama ini mengambang. Sebelumnya, beberapa waktu lalu, teman saya yang lain, Udin, ngetwit yang isinya adalah Hitam Putih akan mengganti host-nya dari Deddy Corbuzier menjadi Farhat Abbas. Rencana apalagi ini? Penurunan kualitas? Yang akhirnya si pengacara itu hanya ditampilkan sebagai pendamping. Tapi, ternyata akar permasalahannya satu: ‘katanya’ ratingnya turun. (Entah isu ini benar atau tidak)

Banyak asumsi apa yang menyebabkan rating Hitam Putih turun. Ada yang bilang kualitasnya menurun. Saya tidak pernah menilai kualitas acara ini menurun, tapi kalo ada hari hari tertentu yang mana bintang tamunya kurang menarik untuk disimak, saya katakan: Ya. Tapi itu wajar, bahkan Sir Alex Ferguson pasti punya hari yang buruk, sehebat apapun dia. Soal rating yang turun? Banyak yang mengatakan bahwa dengan menampilkan Farhat Abbas-yang kontroversial, akan membuat masyarakat tertarik untuk nonton dengan harapan ‘wah, si Parhat mau ngomong apa lagi nih’. Untuk semua orang yang doyan gosip dan kontroversi, ya, ini cara yang sangat manjur. Tapi apa itu saja cukup? Justru untuk orang yang gak suka orang semacam Parhat hobi ‘nggambleh’ kalo orang Jawa bilang, justru akan pindah channel atau bahkan mematikan TV.

Yang lain lagi bilang bahwa Hitam Putih itu kalah saing dengan acara sebelah yang hobi goyang (yang mana berasal dari korporasi yang sama meskipun beda TV). Saya harus bilang bahwa ini alasan yang paling masuk akal. Bahkan, banyak acara serupa, dengan  konsep yang sama, dengan berbagai modifikasi pun tidak mampu menyaingi acara tersebut. Kita semua harus mengakui, bahwa acara tersebut menjadi sangat viral. Banyak anak-anak yang lebih ‘terinspirasi’ untuk goyang daripada terinspirasi oleh bintang tamu Hitam Putih. Kenapa itu bisa terjadi? Mudah saja, nonton acara TV dengan semi-full-goyang itu GAK PERLU mikir. Iya, apalagi acara tersebut terkadang suka membuka berita yang belum tentu benar dan masih dalam lingkup pribadi (bahasa kasarnya aib) para talent-nya, yang mana masyarakat akan makin suka kalo hal tersebut makin dikorek. Apalagi dulu sempat ada cekcok antara Rapi Amat sama Tara Budeman yang memperebutkan Cinca Lawra. Terlepas itu cuma settingan atau beneran, masyarakat Indonesia tertarik untuk melihat konflik tersebut. Ditambah lagi, mungkin ini yang jadi daya tarik utama: ada jutaan rupiah yang setiap hari dibagikan. Bagi bagi duit ini bahkan tidak cuma acara goyang malam hari aja, acara musik pagi pun lebih fokus ke bagi bagi duit daripada menampilkan pertunjukan musik yang berkualitas.

Namun bukan berarti Hitam Putih harus membagi bagikan duit tiap hari ke penonton hanya buat nonton Deddy Corbuzuier goyang. Bahkan saya pikir, orang yang datang untuk menonton langsung ke studio datang untuk terinspirasi dan sekaligus terhibur, tidak malah untuk dibayar (untuk tertawa). Tapi jika ada hadiah untuk penonton sebagai apresiasi kesetiaan mereka, mungkin wajar, seperti yang dilakukan Oprah Winfrey Show. Tapi untuk kami semua, yang menonton untuk mendapat hiburan sekaligus terinspirasi, konsep seperti sebelumnya saja sudah cukup, kami akan terus berharap dan hanya bisa berharap acara ini masih ada, meskipun mas Deddy lewat twitter-nya juga sudah mengatakan ‘What done is done’. Kami sangat menyayangkan, satu lagi acara inspiratif yang harus bubar jalan.

Kalau boleh mengatakan, terlepas dari alasan apapun bubarnya acara Hitam Putih, acara itu sudah memiliki tempat di hati kami, ribuan, mungkin jutaan rakyat Indonesia yang terinspirasi. Layaknya band Queen, tidak pernah satu kali pun mereka memenangkan Grammy Awards, tapi paling tidak ada jutaan di luar sana yang terinspirasi dan memuja, bahkan ketika sang vokalis sudah tiada dengan segala kontroversinya. Hitam Putih tidak perlu menang Panasonik atau award award lain. Kalian sudah memenangkan hati kami.

Acara talkshow mungkin banyak di Indonesia dan bervariasi, ada yang cuma modal laptop tanpa ngerti apa yang diomongin, ada yang cuma modal guyonan dan diselingi relaksasi (yang dulu bilangnya hipnotis) dan macem macem. Tapi cuma satu yang bisa paham psikologi dan mampu mengolah acara menjadi hidup.

Terima kasih telah menginspirasi kami. Terima kasih telah menginspirasi Indonesia. Jangan pernah berhenti menginspirasi.

-          Kami menunggu ‘kewarasan’ dunia ini datang kembali      -

Kategori Taring

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...