Wednesday, March 25, 2009

Nenek Sihir

Jujur, gue cukup bingung buat memberi judul blog yang satu ini,
antara nenek pecandu sirih, nenek Nori atau nenek serem,
akhirnya gue putusin buat kasih nama blog ini, 'Nenek Sihir'

kisah ini bermula ketika gue duduk di kelas 9 (3 SMP).
Karena udah mendekati Ujian Nasional, kita diwajibkan buat ngeNol (baca: les sebelum pelajaran dimulai).
Yang biasanya masuk jam 7.15 harus masuk jam 6.30.
Gue yang punya rumah cukup jauh dari sekolah harus berangkat pula lebih awal.
Dari jam 6.20 ke 5.50.
Gue cukup pesimis buat berangkat, soalnya mana ada bus yang berangkat pagi buta gitu?
Paling-paling cuma ngangkut makhluk-makhluk beruban yang memiliki satu tujuan, yaitu : pasar.
Karena gue takut kalo ampe sekolah telat, gue suka ngajak Takdir buat berangkat bareng.
Dia juga gak sendiri, ada Latifah yang suka nemenin dia.
Alhasil kita kayak Trio Kwek-Kwek dengan personil : Latifah sebagai Leony, Takdir sebagai Affandi dan mau gak mau gue jadi Dhea Ananda.

Benar kata Tias, menunggu itu menyebalkan!
Kali ini gue sependapat ama dia.
Gak ada bus yang nongol,
huh....
Tiba-tiba tidak dinyana tidak diduga, datang bus bernama 'Gagak Rimang' datang dengan berjuta penumpang layaknya kerupuk kulit (baca:uzur).
Yah, mau gak mau harus mau.
Sepanjang perjalanan gue cemberut.
Takdir berduaan ama Latifah, gue? ama nenek-nenek?

Tapi syukur, gue ada temen, di Kenteng, muncul 3 makhluk asing, mereka adalah Bos Heru, Hanif (baca:Tejo) dan Intan.
Gue duduk ama Bos Heru dan Hanif di kursi paling belakang bersama kakek-kakek yang mau nggembala kambing ke pasar kayaknya (bukan gembala mas, itu namanya mau jual kambing!).
Intan duduk di kursi nomor 3 dari kursi driver.
Waktu melewati daerah Kembang, tepatnya Masjid Kembang, muncul seonggok simbah-simbah pake kayak kerudung (entah namanya apa) sambil menggendong apalah itu yang pasti bukan tas buat sekolah dan menggerogoti daun sirih di mulutnya. Pokoknya kalo kamu belum nangkep, kayak gimana orangnya, pokoknya wajah orangnya kayak Mpok Nori gitu lah.
Alhasil bus berhenti tanpa gue suruh, soalnya kernetnya yang nyuruh.
Nenek itu naik, bus melaju, wezzzzz.....
Nenek itu langsung duduk di tempat dimana Intan duduk,
gue, Hanif, Takdir, Latifah dan Bos Heru langsung ketawa.
Intan lansung berdiri daripada didudukin nenek-nenek palagi ampe tuh nenek mencret, kan berabe?

Nenek itu pun bilang,
'karang yo aku ki wis tuwa, mripate sing siji ora jelas nek dinggo ndelok ki'

kurang lebih kalo diartikan dalam bahasa Zimbabwe berbunyi,
'hjusjsf gyhghsisqjhdsoak jioqwjy sik nqwtskloo gfajuy'

Maaf, itu kebiasaan gue ngomong pake bahasa rumah,
Nah, kalo' bahasa Indonesia nenek itu bilang,
'Maaf, wajarlah, saya kan sudah tua, mata saya gak begitu jelas buat liat sesuatu, maaf ya'

Intan terlihat malu namun tetap wajar.
Tapi pada kesempatan lain, penumpang bertambah Restu, namun dia duduk di belakang bareng gue.
Intan berganti posisi menjadi kursi di belakang pintu keluar.
Nenek itu terlihat lagi.
Intan tak menaruh curiga, dia mengira bahwa nenek itu akan duduk di tempat yang sama.
Namun?
Zonkk.....
Seakan-akan Intan memiliki magnet, nenek itu memilih kursi milik Intan lagi. Dan lagi-lagi berkata,
'karang yo aku ki wis tuwa, mripate sing siji ora jelas nek dinggo ndelok ki'

Semua temen-temen tertawa.
Gak terkecuali Restu yang jadi pendatang.


Waktu SMA, gue cukup penasaran, Kok gag pernah liat nenek itu lagi.
Bukan berarti kangen, tapi hanya memastikan aja, apa masih meramaikan belantika transportasi.

Akhirnya, hari Kamis, 19 Maret 2009 adalah waktu dimana gue kembali bertemu dengan nenek Sihir itu. Mungkin dia baru pulang dari pasar.
Dia terlihat sama, namun terlihat lebih ganas dan liar ketika dia bertemu dengan anak SMK yang memakai kerudung. Dia mengguncang-guncang tubuh anak itu (baca:lebih terlihat seperti mencekik) sambil berkata,
'Oalah, kowe toh? saiki wis SMA?'

kalo bahasa Indonesia,
'Oh.. kamu ternyata? sekarang sudah SMA?'

Anak itu terlihat shock dan ketakutan melihat nenek itu.
Kemudian gue berkata kepada Ibnu,
'Nu, hati-hati, masih banyak spesies yang seperti itu, belum lagi yang mau menghisap darah'
Hi.....

Cerita ini adalah sepenggal kisah hidup Eric Setyo Nugroho ketika masa-masa SMP.

1 comment:

imam said...

lucu lucu...cerita nenek sihir emang bikin bulu kuduk berdiri. sayangnya perjalananya pagi pas berangkat sekolah sih, kalo pas pulang ngaji malam jum'at kliwon pasti bikin bulu kuduk pada ngibrit lari hehehehe