Monday, April 6, 2009

Sinetron was Born

Sinetron merupakan 'kepercayaan' baru di Indonesia. Setiap hari berjuta-juta manusia Indonesia menanti datangnya pukul 19.00 atau pukul 7 malam. Mereka tentu ingin melihat Cristian Sugiono, Shireen Sungkar, Alyysa Subandono dkk. beradu akting. Mungkin jam 5 saja sudah ada yang tayang seperti Kepompong atau Tarzan cilik. Tampang yang rupawan tentu menjadi daya tarik seseorang untuk menyaksikan sinetron tak terkecuali anak di bawah umur atau dapat dikatakan balita.

ilustrasi yang gue buat, hidupnya berwarna namun terkekang, itulah pemain sinetron.

inilah yang membuat bobrok moral bangsa Indonesia. Hal-hal dalam sinetron ada beberapa hal yang tidak pantas dicontoh, terutama beberapa adegan yang tidak sepantasnya ditonton oleh para penerus bangsa. Adegan penyiksaan yang dilakukan seorang ibu tiri kepada anaknya, adegan berpelukan, belum lagi eksploitasi yang dilakukan terhadap anak di bawah umur seperti Baim.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Bu Ossy (baca: Guru Bahasa Indonesia) bahwa sinetron hanya cocok untuk ditonton oleh orang lanjut usia. Dan menurut beliau, oarang yang hoby menonton sinetron memiliki kecenderungan stress. Mungkin menonton sinetron dianggap mampu mengobati stress. Namun justru hal tersebut yang akan membuat lebih stress.

Dalam hal ini, saya memohon kepada KPI agar mengurangi jatah penayangan sinetron di televisi, seperti pada yang dilakukan saat masih ada 'Tersanjung' yang hadir seminggu sekali, yaitu pada hari Jum'at. Apalagi saya lebih khawatir kepada prestasi kawan-kawan saya yang lebih memilih menyaksikan idolanya daripada mempersiapkan ujian yang telah menanti.
Mungkin bagi sebagian orang seperti nenek saya memang mampu dijadikan sebagai hiburan, namun saya kadang juga merasa kasihan jika Beliau ketinggalan satu episode dan tiap hari melakukan rutinitas yang konyol, yaitu menonton Sinetron!!
Give a Fuck For Sinetron!

No comments: