Friday, August 28, 2009

Malingsial

Ya, Malingsial. Sebuah julukan baru yang sangat cocok alias tepat bin akurat untuk negara tetangga kita itu.
Betapa tidak, negara itu sudah benar-benar Maling (mencuri) harta kekayaan Indonesia.
Mungkin kita kerap mendengar negara itu juga sebagai Negeri Jiran, namun bagi masyarakat Jawa, kata tersebut justru terdengar seperti 'Negeri Jaran' (dalam bahasa Jawa, Jaran = Kuda-red)
Jaran alias kuda. Lebih tepatnya Kuda binal alias kuda liar yang tingkah dan polahnya tidak karuan, tabrak sana tabrak sini tidak tau aturan.
Liat rumput milik tetangga langsung dimakan tanpa peduli adanya aturan dan larangan.
sepertinya si Jaran tidak pernah jera dengan gertakan pemilik rumput itu.
Namanya juga Kuda binal, mana bisa nurut?

Sudah sepantasnya negara Indonesia melawan semua penjajahan ini.
Jika tidak, harta kita akan habis dalam hitungan beberapa tahun saja.
Memang Indonesia adalah 'kakak' dari Malingsial itu. Tapi kenapa 'kakak'nya diem aja?
Seperti kutipan perkataan Pak Amien Rais saat ditanya rekan-rekan wartawan, beliau menjawab
'Kalo adik kecil nakal boleh disentil telinganya, kalo diulangin lagi harus dikasih pelajaran'

Benar sekali perkataan beliau. Malingsial adalah 'adik tiri' yang tidak tau berterima kasih kepada kakaknya.
Pada awal pembentukan negara Malingsial, Indonesia mengirimkan ribuan guru untuk mendidik rakyat negara tersebut yang notabene MASIH BODOH!!
Untung pada saat itu pemerintah Indonesia mau berbaik hati pada Malinsial.
Sebenarnya, konfrontasi telah diteriakkan oleh Bung Karno yang saat itu beliau menjabat sebagai presiden RI dan disetujui oleh jutaan rakyat Indonesia.
Namun, sebenarnya konfrontasi antara Indonesia dan Malingsial terjadi karena pihak Indonesia menganggap bahwa Malingsial adalah suatu proyek neokolonialisme Inggris yang membahayakan Revolusi Indonesia dan merupakan pangkalan asing yang mengancam Indonesia.
Pada tanggal 11 agustus 1966, ditandatangani persetujuan normalisasi hubungan antara Malingsial dengan Indonesia.
Malingsial diwakili Tun Abdul Razak dan Indonesia diwakili Adam Malik.
Persetujuan itu merupakan hasil Persetujuan Bangkok pada 29 mei-1 Juni 1966.

Kemudian ada kutipan buku sejarah SMP terbitan Sekawan, Klaten yang mengatakan sebagai berikut:
"Dengan demikian berakhirlah politik konfrontasi yang tidak sesuai dengan dasar politik luar negeri Indonesia yaitu bebas aktif.
Politik yang dilaksanakan selanjutnya adalah politik bertetangga dan bersahabat serta hidup berdampingan secara damai saling menguntungkan"

Whatt? Damai dan saling menguntungkan? Najis banget.
Ir. Soekarno pasti sangat bersedih, kecewa dan menyesal karena konfrontasi dengan Malingsial dihentikan.
Malingsial sekarang benar-benar merugikan negara kita.

Beberapa sebab kenapa kita harus memenggal kepala serta otak kotor dari Malingsial itu:
1. Jelas, yang terbaru adalah lagu 'Indonesia Raya' yang notabene adalah lagu kebangsaan kita telah dilecehkan bangsa Malingsial.
2. Macam-macam pengakuan yang dilakukan Malingsial, seperti batik, angklung, lagu rasa sayange, reog dan yang masih anget adalah tari pendet.
3. wilayah Ambalat kembali memanas, tidak juga kapok, Malingsial harus benar-benar dibantai.
4. Penyiksaan terhadap TKI dan TKW yang bekerja disana oleh orang Malingsial.
5. Kasus Manohara. Meskipun gue gak terlalu pro dengan Manohara, tapi di lain pihak gue sangat kontra dengan orang botak yang namanya Fahri atau siapalah itu?!
6. Yang paling dahsyat adalah Noordin M. Top yang notabene orang Malingsial sudah memporak-porandakan Indonesia. Dan juga muncul guyonan orang Malingsial yang kurang lebih isinya 'Itu baru 1 orang Malingsial aja Indonesia udah hancur, gimana kalo semua?' kurang lebih kayak gitu.

Indonesia yang dulu berani melawan 'ahli-perang' pada jaman itu justru lembek pada saat ini.
Belanda, Spanyol, Portugis, Inggris, Jepang dan Sekutu berhasil diusir dari Indonesia.
Jangan buat negara kita senasib dengan Palestina, yang terlalu lembek menghadapi Zionisme dari Israel dan akhirnya Palestina hampir tinggal sejarah.
Kita harus berani sedikit seperti negara Arab yang 'males' buat mengimpor barang-barang dari Amerika.
Korea utara yang terus teguh pada pendiriannya sehingga Amerika pun cukup takut untuk melawan.
Tetaplah berpegang teguh pada ideologi kita, jangan sampai hancur seperti Uni Sovyet yang runtuh akibat ideologinya tidak stabil.
Negara kita sedikit demi sedikit juga sudah digerogoti oleh Malingsial.
Jangan beri ampun pada Malingsial, maling tetaplah maling.
Bersatulah rakyat Indonesia, lawan terorisme, tangkap maling-maling yang berkeliaran!!

"GANYANG MALAYSIA"-Ir. Soekarno (6 Juni 1901-21 Juni 1970)

No comments: