Thursday, October 8, 2009

To'irin

Beberapa waktu lalu kompleks rumah gue digemparkan oleh seorang lelaki misterius.
Orang tersebut masuk rumah Pak Samroji (baca:Pak Sam) tanpa ijin.
Orang tersebut langsung tiduran di rumah itu tanpa seorang pun yang curiga.
Sebenarnya ada beberapa saksi mata yang melihat, namun mengira orang itu masih saudara dengan Pak Sam.

Karena Pak Sam juga tidak mengenal orang tersebut, timbul rasa curiga.
Dalam hitungan menit, beberapa tetangga Pak Sam, termasuk gue ikut datang.

Orang tersebut terlihat bingung kala diajak bicara.
Mungkin karena takut dihajar orang satu kompleks, orang tersebut tidak mau bicara.
Bungkam seribu satu malam, eh maksudnya seribu bahasa.

Setelah diancam oleh warga, orang tersebut mau bicara.
Dan setelah ditanya,
"Kowe jenenge sopo?" - "Kamu namanya siapa?"
dia jawab,
"Inyong jenenge To'irin" - "Nama saya To'irin".
Oh, ternyata orang bahasa ngapak to ini orang.
"Ndene arep ngopo?" - "Kamu ke sini mau ngapain?"
dia jawab lagi dan kali ini gak banget jawabannya,
"Lha inyong pingin banget turu" - "Lha saya cuma ingin tidur disini"
Dia ditanya lagi,
"Lha ra nduwe omah po piye?" - "Gak punya rumah atau gimana?"
dia jawab lagi,
"Tenan, inyong ra duwe omah, pengen mlaku-mlaku wiruh dalan" - "Beneran, saya gak punya rumah, saya itu pengen banget jalan-jalan liat jalanan"
Ditanya lagi dengan nada mengancam,
"Ojo ngapusi lho, nek ngapusi tak antemi!" - "Jangan bohong, ntah kalo bohong saya hajar!"
Dan To'irin menjawab lagi dan sedikit keluar air mata,
"Tenanan pak!! tenan!!" - "Beneran pak!! Beneran!!"
Dan ditanya lagi,
"Lha kui nang kathok ono opone?" - "Lha itu di celana ada apanya?"
Dia menjawab dengan lugas,
"KTP pak, karo gendera" - "KTP pak, sama bendera".

Ternyata dalam KTP tersebut bukan namanya yang tercantum.
Nama seorang wanita kelahiran tahun sekitar 1940-1950.
Wah, ternyata ini orang sableng yang nyasar ke rumah Pak Sam.
Dan bendera yang dia bawa, taukah kamu bendera apa itu?
Bendera sebuah partai politik bergambar Ka'bah.
Gue malah berpikir, apa jangan-jangan nih orang gila gara-gara gagal jadi anggota DPR kali yak?
Atau mungkin orang ini adalah urusan partai tersebut buat kampanye?
Mustahil..

Lantas ketika orang tersebut hendak diserahkan kepada polisi agar diurusi, dia menolak dan meronta.
Entah dengan alasan apa.
Lalu To'irin dikasih uang 10ribu sebagai ongkos dan makan.
Entah bagaimana pun caranya.
Dan To'irin pun dibawa ke stasiun KA Sentolo.
Terserah mau naik kereta jurusan apa, atau mau ngapain aja.

Goodbye To'irin!!
Be Careful and Take Care of Yourself. :D

No comments: