Thursday, May 6, 2010

Awal Putih Abu-Abu

Mari kita flashback ke masa-masa di mana gue terjebak, terjebak masuk di kurungan tak nyata ini.
Kurungan yang bernama Casello.

Okay, Casello tentu bukan tujuan penerbanganku.
Karena gue gak mau jatuh di tengah perjalanan kalo' gue menginginkan tujuan yang lebih jauh.
Sumpah, 3 tahun sekolah di Wates bukan berarti gue tau banyak tentang Casello.
Yang gue tau cuma : Casello itu ke utara dikit lalu naik, pintu gerbangnya pas tikungan.

Waktu pendaftaran gue sendiri tanpa wejangan Orang tua (yaiyalah, deket sama sekolah gue).
Gue bareng temen-temen SMP kayak bos Heru, Ibnu, Dian, dll.
Pertama kali yang dicari Bos Heru selain tempat pendaftaran adalah : WC.
Kita juluki dia sebagai WC-maniac saja ya?

Gue inget banget waktu diajak ngobrol sama pak Zidni.
Tanggapan pertama gue adalah : wah, ternyata gurunya baik banget ya di sini (ya walaupun akhirnya banyak yang enggak!)
Dan Pak Zidni bertanya berapa NEM gue, dan dia mengusulkan agar langsung memasukkan nilai tersebut, tapi gue menolak.

Setelah diterima, gue ditempatkan di kelas XE, satu kelas sama Yosi dan Toni, 2 berandalan waktu SMP (hahaha).
Waktu masuk di hari pertama, gue termasuk berangkat awal.
Di depan kelas XE ada 2 orang aneh, yang satu cukup berwibawa dengan memakai celana skinny dan yang satu tinggi dan wajahnya kayak Bekantan.
Yang berwibawa itu gue ajak kenalan, dan dia mengenalkan bahwa namanya Danis (dan akhirnya lebih dikenal sebagai Vio alias Jangkrik alias Gaco).
Dan yang satu bernama Bayu, gak banyak omong, namun cukup bersahabat.

Siswa yang lain rata-rata udah gue kenal, kayak Yuda, Hanif, Fito, Bos Heru dan cewek-ceweknya banyak yang gue kenal, terutama Bella, Desy dan Latifah.
Ada anak yang badannya keker, namanya Adhi.
Kemudian ada yang kecil, namanya Irwan.
Ada yang terlihat pinter karena berkaca mata namun ternyata menghanyutkan bernama Fajrian serta temannya yang bernama Yuli.
Namun ada satu yang berbeda, cowok item dengan logat aneh, cowok itu bernama Bogie.
Jujur gue mengira bogie itu berbadan besar dan sangar, ternyata kurus dan item (haha, sorry Bog).

Masa-masa MOS sungguh gak asik buat gue, membosankan dan eneg.
Walaupun kadang lucu gara-gara Bogie kentut atau tingkah Irwan yang membaca puisi '..Because I Love You', tapi gak membuat rasa bosan gue reda.
Belum lagi jam pelajaran yang lebih lama dari waktu SMP, jadi bikin boring dan pengen cepet pulang.
Awalnya gue kurang betah berada di kelas ini, namun lama-kelamaan gue seperti menemukan 'keluarga' di sini.
Ada banyak tawa dan solidaritas di sini.
Sama seperti waktu SMP, di sini begitu komplit.
Kejahilan dan kebodohan selalu menjadi menu wajib di setiap hari.
Gue sangat merindukan suasana kelas itu :)

No comments: