Friday, December 17, 2010

Garuda Di Angkasa #2

Sekarang kita berpindah ke masalah di luar lapangan.
Ada beberapa fakta menarik yang berhasil dikumpulkan oleh jurnalis Serigala Tanah, hehe.

1. Tahukah anda bahwa Hamka Hamzah mirip dengan vokalis Zigas? (ketika rambutnya masih panjang dan dikucir)
Begitu juga Irfan Bachdim yang lumayan mirip sama Fathir (pembawa acara Scary Job).
Selain itu Irfan juga gak jauh beda sama Bos Heru, hehe.

2. Selama pertandingan di Gelora Bung Karno, banyak dipasang spanduk-spanduk pembangkit semangat.
Seperti 'Alirkan bolamu sederas air bah', 'Garuda di dadaku', dsb.
Namun yang cukup memprihatinkan adalah adanya spanduk pro-Nurdin yang bertuliskan 'Nurdin Halid', terus ada 'PSSI Yes', dsb.

3. Irfan Bachdim dengan fasih menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya.
Berhubungan dengan lagu kebangsaan, waktu Lagu kebangsaan Malaysia dikumandangkan mendapat teror dari seluruh penonton di GBK.

4. Pemain Indonesia setelah mencetak gol melakukan selebrasi yang unik.
Lihatlah Firman Utina yang bergaya ala Keong Racun, begitu juga M. Ridwan dan Arif yang bertingkah seperti 'Angkrek'.

5. Meskipun Fery Rotinsulu hanya duduk di bangku cadangan, namun beberapa kali Ia terlihat menegak air mineral di bangku cadangan.
Gak main aja minumnya banyak, jangan-jangan kalo' main malah jadi kebelet?!

6. Alfred Riedl merupakan sosok yang dingin dan misterius.
Tak jarang Ia terang-terangan mengkritik situasi yang ada, seperti buruknya lapangan di Bandung, media yang berlebihan dan pemain yang sudah seperti artis.
Ia juga sangat tidak berlebihan dalam merayakan sebuah gol.

7. Pernah liat di TV, pas di hotel si Bambang sama Firman jalan sambil kayak gandengan gitu.
Hahaha, ya Tuhan, ternyata mereka kayak gitu ya? haha.

Itu tadi beberapa fakta di luar lapangan dari Timnas Indonesia.
Go Garuda!!!

Garuda Di Angkasa #1

Salam Olahraga!!
Yak, tampaknya negeri kita tercinta ini dialihkan perhatiannya dari kasus Gayus ke kasus Nurdin Halid, eh maksudnya keberhasilan Timnas Garuda ke babak semifinal dengan hasil yang cukup meyakinkan.
Betapa tidak, Malaysia dihajar 5-1, Laos dimasak dengan skor 6-0, dan Bryan 'Robo' Robson dan Thailand-nya pun dipaksa pulang lebih awal.
Di dalam lapangan Alfred Riedl, Wolfgang Pikal, Widodo C Putro, Andi Darussalam, dkk. telah berhasil membangun timnas yang kuat secara fisik dan mental.
Khusus Alfred Riedl, beliau memang spesial.
Ia sangat disiplin dalam membangun tim, dari Boas yang tidak dipanggil karena mangkir, jadwal wawancara yang hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu sesuai jadwal hingga berpantang senang sampai benar-benar menang (lihat ekspresi wajahnya).
Sedangkan Wolfgang Pikal bertugas sebagai 'kamus' bagi pemain timnas yang (maaf) kurang ngerti instruksi pelatih dengan bahasa Inggris, hehe.

Dari segi pemain, semua lini bisa dibilang layak.
Markus layak menjaga gawang karena Ia juga berhasil menjaga Kiki Amalia (lho?).
Hamka Hamzah juga seperti 'terlahir kembali'.
Tentu kita ingat dulu Ia suka maju ke depan dan lupa balik ke belakang, bahkan waktu di Persisam Ia pernah jadi striker.
Namun di Persipura Ia menemukan kedisiplinannya kembali bersama Jackson F Tiago.
Dua bek sayap juga lumayan walaupun tusukan dari Zulkifli belum sebaik waktu memperkuat Arema Indonesia.

Ahmad Bustomi juga mempu jadi konektor lini belakang ke lini depan bersama jendral lapangan tengah sekaligus kapten Firman Utina.
Dua gelandang sayap juga dibilang cukup istimewa.
Ridwan yang gue anggap 'sudah berumur' justru kembali menampilkan permainan prima.
Okto Maniani juga bisa dibilang 'The New Elie Aiboy' meski belum banyak melakukan tusukan dengan gocekannya.
Kita juga punya Arif Suyono yang menjadi super-sub yang selalu menghidupkan permainan.

Yang paling menarik perhatian tentu saja duo striker baru kita, Irfan Haarys Bachdim dan Cristian 'El Loco' Gonzales.
Irfan sebenarnya memiliki kemampuan yang terlalu super, namun grafik permainan di Persema yang terus meningkat dan profesionalitas ala Belanda lah yang mampu mengangkatnya.
Gonzalez tidak perlu diragukan lagi, namanya saja El Loco (latin : si Gila), meski tambun Ia cepat dan pintar memanfaatkan peluang yang ada, awesome!!
Bambang Pamungkas juga terkadang dimainkan dan dianggap sebagai pemain paling senior dan juga panutan pemain muda lainnya.
Namun jujur, gue pengen liat Yongki Aribowo main, gak Bambang Pamungkas melulu.

I'm Not The Third Man

Hei kawan, pernah gak jadi orang ketiga?
Apalagi kalo' dituduh jadi orang ketiga atau perusak hubungan orang lain.

Nah, itulah yang terjadi, beberapa kali gue pernah dikira merusak hubungan orang lain.
Padahal sama sekali gak ada apa-apa, kalo' deket mentok-mentoknya cuma deket sebagai temen, gak lebih.
Toh mereka yang merasa hubungannya dirusak gak perlu khawatir, toh aku juga gak punya apa-apa.
Aku gak punya wajah yang tampan, fisik yang bagus apalagi harta yang melimpah, itu semua gak ada dalam diri gue.

Tapi buat menghindari hal yang lebih parah lagi, gue memilih untuk menjaga jarak, bahkan cenderung gak komunikasi agar gue gak dianggap menggangu hubungan orang lain.
Gue lebih milih temen gue kehilangan gue sebagai temen daripada temen gue kehilangan pacarnya.

Itu pernah terjadi sebelumnya, Facebook gue pernah diremove (temen SMP), itu juga permintaan dia, untuk menjaga hubungannya sama pacarnya.
Gue sebagai temen yang baik tentu menerima itu, ampe sekarang pun Facebook gue diblock.
Gue jadi gak bisa tau apa kabar temen gue itu, boro-boro telepon atau sms, nomor hape aja gak pernah ngasih.
Jadinya, selama sekitar 2 tahun ini gue jarang tau keadaan dia.

Begitu juga saat ini.
Namun kali ini gue memilih menarik diri terlebih dahulu tanpa diminta.
Yang pasti gue menghindari hal-hal yang gak diinginkan.

Sekali lagi itu semua hanya anggapan mereka, namun gue cuma gak pengen memperkeruh suasana.
I hope y'all understand :)