Thursday, September 6, 2012

Ga-Lau Fe-Ver


Galau. Fenomena masyarakat Indonesia (bahkan dunia, tapi entah apa namanya). Semenjak ada twitter, galau itu udah kayak bumbu penyedap yang paling essensial walaupun tau itu adalah zat yang ‘berbahaya’.

Setiap orang itu pasti pernah galau. Entah karena cinta, keluarga, sekolah, kuliah, tugas, utang, deadline, kerjaan dan masih banyak lagi.
Semenjak ada twitter dan sosmed (sosial media) lainnya, gue yakin, misalnya ada penghitung traffic komunikasi orang curhat sama temennya itu grafiknya menurun.
Gimana enggak, orang lebih suka mengumbar ‘kesedihannya’ lewat update status. Gue juga yakin, sang penulis berharap bakalan ada orang yang peduli. Dan gue yakin ada beberapa orang yang ‘berusaha’ peduli. Dan gue lebih yakin lagi kalo abis ditanya ‘kamu kenapa?’, dia bakalan jawab ‘gak papa kok’. Ya terus kenapa musti update status biar seluruh dunia tau?

Kalo dulu, sedih ya sedih aja. Kalo bisa ketemu orang lain tetep keliatan tegar. Tapi entah kenapa, sosmed itu malah kayak diary yang orang lain bisa baca kapan aja. Dan setelah gue pikir, betapa bodohnya gue pernah mengumbar umbar kesedihan di sosmed. Haha, what a pity.

Tapi, untuk beberapa orang. Kegalauannya bisa jadi kehebohan dan santapan bagi masyarakat luas. Khusus untuk twitter, ini adalah ladangnya akun galau. Jadi, ini adalah beberapa fenomena ‘galau’. 

1. Twitter
Yap, kalo mau disebutin akun bertema galau satu per satu mungkin satu postingan ini bakal sepanjang sajadahnya Bimbo.
Banyak akun yang secara sengaja menebar bibit bibit galau pada followernya (dan justru sepertinya itu yang dicari oleh para follower).
Hal paling sensitive yang paling disinggung di twitter adalah masalah ‘move on’, ‘jomblo’, ‘LDR’ dan sebangsanya.
Nah, contoh beberapa akun twitter yang mahir dalam hal ini antara lain adalah:
@RadioGalauFM (contoh ‘Channel tivi aja bisa diganti-ganti, masa pacar nggak’, atau ‘Mending BBM nggak dibales. Daripada kangen nggak dibales?’)
@RadityaDika (Contoh ‘Kok belom makan malem? Gak ada yg ngingetin ya? Jomblo ya?’)
@Poconggg (Contoh ‘Sok-sok nyomblangin temen, sendirinya gak dapet2 pacar. Pait.. pait.. *tuktuktuk*’)

2. Pak SBY
"Astahhfirullah, kompor belum dimatiin"
 Yap, bapak presiden kita yang satu ini secara tidak langsung bisa dikatakan ‘galau’. Beberapa kali melakukan pidato kenegaraan dengan nuansa kesedihan dan kepedihan. Terkadang beliau hanya bisa mengatakan ‘saya prihatin’. Terkadang juga dia terlihat sangat gusar dengan pendengarnya, bahkan pada anak anak, ckck.

3. PSSI
Let 'em fight, maybe?
 Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Yap, PERSATUAN. Gimana enggak galau kalo namanya PSSI tapi ada dua kubu. PSSI ala Djohar Arifin dan PSSI versi La Nyalla. Gimana sepakbola kita bisa maju kalo pengurusnya aja galau, ada dua, visinya kabur semua, abu abu, gak jelas. Alhasil peringkat FIFA Indonesia terjun bebas. Bahkan untuk Negara Asia Tenggara pun Indonesia tidak masuk 5 besar, di bawah Thailand, Vietnam, Singapura, Filipina dan negara tetangga tercinta Malaysia. Bahkan, ada yang pernah dengar negara ‘Aruba’ atau ‘Curacao’? Bahkan Palestina yang masih terus bergejolak memiliki peringkat yang lebih baik. Cukup pak galaunya, cukup.

4. Cristiano Ronaldo
"kalo gak Messi yang menang, ya Iniesta. Huft, Uefalona"
 Pemain termahal sejagad, yang rumornya masih pengen gajinya naik lagi. Alhasil dia galau. Yap, kalo bukan Cristiano Ronaldo yang galau, gak bakalan jadi berita. Media sih bilang kalo gaji adalah alasan Ronaldo sedih ketika pertandingan melawan Granada. Dia terlihat tidak melakukan selebrasi dan menangis setelah Ia digantikan oleh Higuain.
Namun ada juga yang menyebutkan bahwa Ia bersedih karena mengingat ayahnya yang meninggal September 2005 lalu. Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa memang ada konflik internal di dalam tubuh Real Madrid.
Tapi apa pun itu, kayaknya gak perlu ampe bikin sensasi. Kaka aja yang gak pernah dimainin malah nge-dukung Ronaldo, coba. Tegar banget yak. Tapi jangan kayak Fabregas. Do’i juga ikutan galau, dia galau gara gara jarang main di Barca. Ciyan.

Yap, itulah segelintir realita di masyarakat dunia, suka atau tidak mohon maaf.

2 comments:

Yan Afta Dino Nyonyo said...

kowe galau kagak bang? :D hahahaaa

Eric Setyo Nugroho said...

Haha, paragraf ke 3 diwoco sek