Sunday, November 18, 2012

Silence of the Wolf



Beruntunglah wahai para pemuda yang masih setia membaca blog saya ini *bersihin dari debu debu*.
Ada lebih dari seribu satu alasan kenapa blog ini jarang diupdate. Kalo dulu mungkin gue terlalu disibukkan dengan berbagai tugas dan laporan praktikum maupun kuliah, sekarang di waktu yang cukup luang ini, gue pun masih tidak aktif untuk menghidupkan kembali ‘makhluk setengah mati’ ini.

Sebenarnya ada beberapa draft yang sudah dibuat, dan tinggal meng-klik ‘publish’.
Ada begitu banyak pertimbangan ketika menyangkut hal hal yang sebenarnya gue sendiri begitu takut untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah gue tulis.
Gue kuliah mungkin dibilang sudah lebih dari setahun. Banyak hal lucu dan menarik untuk dapat ditulis di altar ini.
Tapi, man, ini bukan lagi sekolah putih abu-abu gue lagi. Bukan teman teman yang selalu mengerti candaan gue, bukan teman teman yang selalu menunggu cerita apa yang bakal gue bahas, apa yang lucu, apa aksi Bos Heru, dsb.
Ini tempat perkuliahan. Peduli setan apa nama universitas-mu. Tapi yakinlah, bahwa ada begitu banyak latar belakang dari setiap kepala yang akan kamu kenal. Mereka bukan dari Jawa saja, bukan Sumatera saja, bukan daerahmu saja.
Alasan mendasar gue adalah: cara bercanda gue bisa jadi (atau bahkan pasti) berbeda dengan orang-orang baru ini. Bisa jadi mereka akan sangat tersinggung dengan cara gue bercanda.
Masih teringat jelas di ingatan gue, ketika ada seorang rekan yang melayangkan bogem mentah ke arah gue ketika gue ‘membalas’ candaan dia. Beruntung tidak mengenai gue secara fatal.
Atau ketika ada teman lain, gue bercanda membahas celana. Iya, celana. Dia terlihat tersinggung. Entah bagian mananya.

Dari hal hal itu, gue harus menempatkan diri sebagai orang yang harus pandai memilih kata kata.
Selama kuliah, gue tidak pernah menempatkan diri gue sebagai mahasiswa. Gue adalah anak kuliah cupu. Gue anak kuliah, bukan mahasiswa.
Gue akui, I’m a changed man kalo kata Red di film Shawshank Redemption.
Gue bukan lagi orang yang terlalu terbuka seperti dulu. Orang yang mau berbagi canda tanpa tedeng aling aling. Ada jutaan orang serius di sini yang kemudian berusaha membalas dengan lawakan garingnya.
Ada ribuan orang yang mengagung agungkan menjadi ‘anak kos’ di sini. Dengan alasan lebih hemat, lebih mandiri, dsb. Keep talking, bitches!
Mungkin mereka lupa bahwa harga makan di kantin kampus, di KFC, di Kalimilk memiliki harga yang terlalu ‘biadab’ untuk dibilang ‘harga anak kos’.
Menonton film yang selalu ‘dianggarkan’ biayanya ketika film baru rilis. Atau ketika ada konser penyanyi ibukota yang diadakan fakultas atau kampus tertentu, padahal gak ngefans ngefans amat, ngerti lagunya cuma satu dua, tapi selalu datang biar keliatan bergengsi.
Itulah: (yang ngakunya) anak kos.

Extrovert adalah pilihan gue ketika gue sekolah dulu. Saat ini, itu bukanlah pilihan bijak. Mungkin gue adalah orang yang banyak bacot di twitter. Talking shits, menulis #NowPlaying yang mungkin terlalu sampah bagi kebanyakan orang, menggoda beberapa teman lain. Untuk hal terakhir, terkadang memicu praduga dari para stalkers temen kampus. Mereka membuat konklusi sendiri tentang apa yang aku sampaikan (meskipun itu cuma conversations biasa). Kalo pun aku mau, twitter bukan tempatnya. Terlalu diumbar. Ada fasilitas yang namanya telepon yang dimana jauh lebih privasi kecuali nomermu disadap FBI. Yang lebih hemat, ada yang namanya sms, juga masih menjaga privasi, kecuali hapemu dikepoin temenmu.
Konklusi tak berdasar. Twitter is not my refelction.

Entah, hal ini terbawa ke kehidupan lama. Gue gak pernah lagi bercerita ke temen temen yang ketika sekolah dulu sudah seperti bak penampungan cerita gue.
Tentu saja gue terlalu naif. Mereka punya kehidupan sendiri. Segalanya berubah, setahun lebih berlalu mungkin juga waktu yang cukup untuk lupa akan cara kita ‘bermain’. Entah.

Gue terlalu banyak bicara untuk ukuran judul di atas. Satu hal yang bisa disimpulkan. Diamonds are forever, Friends aren’t.

1 comment:

Anonymous said...

makane rick, golek pacar wkwkwkwkwk