Friday, November 8, 2013

Tifah's Wedding



Tepat hari Minggu 3 November 2013 lalu, secara unofficial Palu mengadakan reuni. Kali ini tidak ada pemungutan biaya untuk makan (tapi tetep aja ada pemungutan biaya kado).
Yap, hari itu adalah hari pernikahan rekan kita, Latifah.
Khusus buat gue (dan mungkin juga buat Bos Heru) akan merasa sangat bersalah kalo sampe gak dateng ke nikahannya Tifah. Kenapa eh kenapa? Karena eh karena judi itu dilarang. Bukan, bukan Bang Haji yang melarang kita untuk datang. Soalnya, Latifah adalah temen gue sejak SMP, dari kelas 7C, 8C, 9C, 10E, 11Ipa3 hingga 12Ipa3 dan akhirnya lulus 2 tahun lalu.
Sebelum dilaksanakannya pernikahan kemarin, sebenarnya ada kegalauan dalam diri gue, gara gara jadwal praktikum medadak berubah, yang harusnya tanggal 10 dimajuin tanggal 3. Terpaksa gue harus cari tukeran gelombang praktikum, selain gak enak sama Latifah juga gak enak temen temen yang udah pada sms nanyain datang apa enggak.


Dan alhasil, pada hari minggu setelah nonton Bima Ksatria Garuda yang ceritanya semakin epic, gue dateng juga. Sesuai perjanjian kita kumpul di rumahnya mbak Reni jam 9.30. Tapi jam 9 si Bayu udah sms aja, katanya dia nyari temen gara gara yang dateng baru dia sama Bos Heru.
Akhirnya gue berangkat dan sesampainya di sana, ternyata juga ada yang nikahan. Gue jadi curiga kalo Tifah nikahannya sama tetangganya Reni. Ternyata dugaan gue bener, bahwa dugaan gue gak pernah bener.
Lalu tiba tiba dari belakang ada yang manggil gue, ternyata adalah… Suketi. Bukan, Suketi gak muncul pagi pagi. Dia adalah Mega, sudah dua tahun gak ketemu akhirnya ketemu di nikahannya Tifah.
Terus kita berdua nerobos jalan dekat tenda gara gara nanya warga ‘Bu lewat mana ya?’ ‘lewat kulon e kuwi wae mas’. Sebenarnya gue gak yakin menerjemahkannya, apa maksudnya suruh muter jalan ke arah barat? Tapi gue malah nerobos jalan. Gue jadi ngerasa bersalah. Jadi beban pikiran.

Setelah sampe di depan rumahnya Reni, gue langsung becanda sama Bayu sama Bos Heru. Biasanya sih sama Supreks, tapi dia belum dateng. Bos Heru bilang kalo cewek gandengannya gak bisa dateng, Gue juga bilang kalo Franda gak bisa ikut dan Bayu gak bisa ngajakin Citra Kirana. Obrolan lain muncul dengan absurdnya, dari mulai pertanyaan kenapa lampu penerangan jalannya dikasih toples, kenapa ada kartu undangan nikah tapi gambar cowok namanya cewek dan sebaliknya. Emang temen SMA adalah temen yang paling absurd.

Kemudian kita pindah tempat. Kita musti jemput Nia. Entah dia itu ngerasa kayak siapa kok kita musti jemput. Ampe si Bos Heru ditanyain simbah simbah deket rumahnya Nia: “iki konco2 kerjo ne po? Arep nang mBantul po? Ojo diajak sek elek elek yo!” dan seketika simbah simbah itu menjadi Mamah Dedeh yang memberi wejangan.

Setelah semua siap, kadonya siap, simbah simbahnya siap, kita berangkat. Trek yang akan kita lalui ini cukup menantang, tipikal pegunungan, banyak belokan, suasananya masih asri. Bos Heru juga cukup lihai dengan belokan belokan tajam, seakan akan dia seperti pembalan MotoGP: Marco Simoncelli *amit amit*

Setelah tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, melewati pematang sawah, melewati kebun bluberi, kita tiba di tempat nikahannya Tifah. Undangan udah keliatan banyak, rame banget.
Kita dateng, terus ada yang pada ngambil souvenir. Tapi gue sama Bayu punya prinsip sih: jangan ambil souvenir kalo nyumbangnya gak gede gede amat (gak gitu juga sih, cuma gak mau ambil aja).
Setelah salaman sama kedua mmempelai dan orang tua, kita foto bareng. Iseng iseng gue nanya ke Tifah: Takdir udah dteng belum? Dia jawab ‘gak diundang lah’.
Well, Takdir adalah temen gue juga, temen SD 6 tahun dan SMP 3 tahun, sekelas sama kita juga dan mantannya Tifah. Apapun alasannya gak diundang, gue tahu pasti Takdir adalah orang yang gentle dengan pernikahan ini. *oposih*

Nikahannya Tifah. Itu juga ada si Lala dan Anisa.
Setelah itu Bos Heru langsung nyeletuk ‘ayo madhang’. Dan gue ambil banyak makanan. Tapi gue curiga, gue kena batunya, gue jadi gak kebagian tempat duduk. Walaupun mau dinamakan standing party kek, flying party kek, nek wong Jowo madhang ora lungguh kuwi ora kepenak. Gue mondar mandir cari tempat sama si Bayu, terus Bayu ngeluh ‘iki Wedding Organizer e kurang sip’ *ya kali pake WO segala -_-*
Setelah gue sama Bayu dapet tempat duduk, orang orang lama tiba tiba muncul, ada Bu Yus sama suami dan anaknya, Pak Sugeng, Rina Ranti sama Amri. Kemudian keliatan pak Turkamto juga. Yang harus kita respect adalah Bu Asih alias Bu LA karena beliau adalah wali kelas kita waktu kelas 3. Kemudian juga ada Bu Sri guru Matematika.
Setelah selesai makan kita keluar cari angin sambil foto foto. Gak lama kemudian Mega pamit duluan gara gara ada acara sama temen paskib. Gue sih seneng bisa ketemu lagi sama temen yang dulu akrab dan baru ketemu lagi setelah 2 tahun. Tapi gue harus mengakui bahwa, things are changed. Tanpa ketentuan tertulis, di sana terlihat bahwa ada sekat di antara kita, terlihat ada kecanggungan setelah 2 tahun tidak ‘menyamakan frekuensi kegilaan’ kita. Gue juga ragu ragu untuk memulai kegilaan, apakah hal ini masih dianggap lucu, atau bahkan terkesan weird dan ‘mekso’. Apapun sekat itu atau betapa terbatasnya komunikasi yang kita lakukan kemarin, gue seneng bahwa solidaritas temen temen Palu buat men-support temen kita yang lagi seneng termasuk juga Lala dan Anisa yang udah duluan bareng temen temen kuliahnya walaupun Lala juga sampe siang masih nungguin kita. #Respect

Duo racun, Wiwin & Olip

Olip & Mega

Palu Squad

Palu lagi. Itu Reni ngapain? Merasa tinggi? -_-

Ice Cream Squad
Setelah selesai kita pulang dengan diiringi lagu dangdut yang bikin goyang Bang Jali. Kemudian muncul berbagai candaan sarkasme soal guru guru SMA kita. Dasar! Haha
Setelah itu kita juga negrujak di rumahnya Reni, bareng Bayu, Wiwin, Olip, Itna dan Tarmi. Ngerujak mangga dan pepaya. Sederhana, tapi gak mewah (dimana mana kalo sederhana emang gak mewah). Sungguh menyenangkan ikut merasakan dan merayakan kebahagiaan teman teman.
Sejujurnya gue punya obsesi, bahwa sebisa mungkin kita ikut support temen temen Palu. Entah acara pernikahan, kelahiran atau wisuda temen temen. Ditunggu event event terdekat (mungkin lahirannya Tifah, atau wisuda temen temen D3 atau bahkan temen kita yang lain yang sudah berencana menikah di waktu dekat. Tunjukkan solidaritas Palu! Viva La Palu!

Selamat menempuh hidup baru buat Tifah dan suami. Gue pribadi dan mewakili temen temen Palu yang kemarin bisa dateng atau pun yang enggak, mengucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Amin :)) 

Courtesy foto: instagram Olip dan FB Tifah & Anisa

Monday, September 9, 2013

Pahlawan di Udara



Sebuah kotak kecil berisi suara yang mampu merubah suasana hati seseorang. Terima kasih Tuhan telah menciptakan sosok Guglielmo Marconi dan kreasinya. Yap, radio!
Entah berapa tahun yang lalu sejak pertama kali mendengarkan radio. Sering tidak disengaja mendengarkan radio waktu kecil karena simbah saya suka mendengarkan informasi harga sayuran tiap pagi di RRI, atau siang hari mendengarkan lagu campursari atau malam hari sekedar mendengarkan wayang. Namun ya itu, cuma sekilas saja, tidak jatuh cinta.
Waktu sudah pindah rumah, beberapa kali saya coba mendengarkan radio dengan frekuensi yang random. Beberapa lagu Nugie macam Pelukis Malam, Pembuat Teh dan Burung Gereja paling sering ‘ketemu’ di pencarian random di radio, kemudian juga Wayang dengan lagu Dongeng Sebelum Tidur-nya, Air dengan Bintang-nya, dan yang paling saya suka waktu itu adalah Kuldesak-nya Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan dengan liriknya yang saya anggap bagus waktu itu.

Ketika kemunculan kembali MTV ke layar kaca Indonesia (waktu itu Global TV-red), saya sangat gembira, karena informasi dan update musik Indonesia maupun luar negeri akan selalu didapat dengan mudah, apalagi dengan video klipnya. Meski demikian masih beberapa waktu saya sempatkan untuk mendengarkan radio. Namun hal tersebut menjadi lebih intens ketika siaran MTV sudah tidak ada lagi alias diambil alih penuh oleh Global TV dengan siaran regulernya.

Dari sekian tahun saya mendengarkan radio, saya punya beberapa program acara yang mungkin bisa dibilang favorit. Dari beberapa program tersebut ada juga beberapa DJ/ penyiar radio yang bisa dibilang ‘jagoan’ saya yang selalu saya tunggu tunggu.

1.      Dagienkz dan Dedi
Saya lupa tahun berapa, tapi yang jelas saya masih SMP. Ketika libur sekolah (entah libur semesteran atau sekedar tanggal merah di antara hari Senin-Jumat) saya selalu sempatkan untuk mendengarkan Prambors FM (Jogja channel 95,8 FM dan merupakan ‘cabang’ dari Prambors Jakarta). Acaranya bernama: Putuss (sebenarnya sampai sekarang arti kata atau kepanjangan Putuss itu apa saya juga lupa)
Dengan jingle yang dinyanyikan tiap sebelum siaran:

“bangun pagi-pagi, ke sekolah, ke kampus, ke kantor kita pergi…
tapi oh my God traffic jam lagi…
but you don’t have to worry…
ada Dagienkz dan Dedi, yang selalu menemani…
di Putuss! ayo main yang bagus…
ayo main yang bagus….”

Kalo yang dulu sering nonton H2C (Harap Harap Cemas) di SCTV dulu pasti kenal siapa Dagienkz. Tapi siapa Dedi? Yaa sebenernya temennya Dagienkz di H2C juga sih, Dedi alias Deddy Mahendra Desta alias Desta Club 80’s.

Dedi dan Dagienkz
Acara ini selalu berhasil mengocok perut saya tiap pagi. Tapi kadang juga pernah beberapa kali siaran berubah suasana menjadi seperti terkesan mistis. Yang paling terkesan dari acara ini adalah kedua penyiar ini memiliki attitude yang ‘ngawur’. Waktu itu pernah ada pendengar (yang rata rata juga gila-mengikuti penyiarnya), pendengar tersebut mengirim sms dengan menulis, misal: dari Ratna di Perkosa. Dan itu dibacakan oleh Desta seperti itu adanya dengan tanpa sadar, walhasil ngakak semua, termasuk semua crew di studio tersebut.
Selain itu juga, kedua penyiar disuruh bercerita masa kecil dan asal usulnya. Dan yang paling saya kaget adalah Dagienkz yang mengatakan bahwa kakek (atau neneknya) adalah orang Wates. Dengan ngibul-nya dia bercerita arti nama Wates itu dari mana. Kata dia nama Wates diambil ketika ada kompeni (Belanda) yang dateng ke daerah tersebut lalu kebelet pipis. Tapi gegara lama, sama temen temennya ditinggal, terus yang pipis tadi teriak ‘Waits.. Waits…’ alhasil jadilah nama Wates. Kocak! Ngakak bener XD

2.      Rian Pelor
Orang ini adalah orang yang membawakan sebuah scene paling keren di radio sepanjang masa: Riot on Air!

Acara yang saya selalu dengar waktu kelas 3 SMP akhir, tiap kamis malam di radio Prambors (juga). Acara yang selalu menghadirkan musisi cutting edge disertai dengan interview serta live performance. Band macam The Trees and The Wild, Ghaust, Holy City Rollers, Innocenti, Amazing in Bed, dsb. Pertama kali saya kenal dari acara ini. Bahkan Tatiana-nya Pee Wee Gaskins pun bisa dibilang ngetop lewat acara ini.
Pembawaannya yang cool dan bisa dibilang bahasanya cukup intelek membuat saya betah mendengarkannya. Apalagi terdapat ke-khas-an ketika dia sudah menambahkan kata ‘Saudaraku’ di akhir kalimat. Misal, “Oke, langsung kita dengar, Saudaraku”.
Sayang sekali, acara yang dibawakan vokalis band Daggerstab dan ((AUMAN))  ini hanya tinggal kenangan. Begitu juga Rian sendiri yang kini ‘pulang kampung’ ke Palembang dan bersiaran di sana.

3.      Panda
Sekarang, hampir setiap orang kenal siapa itu Cici Panda. Yap, dari acara Ceriwis orang jadi banyak kenal siapa itu Panda. Tapi jauh sebelum itu, saya mengenal Panda dari acara (yang lagi-lagi adalah) Prambors FM. Nama acara yang dia bawakan adalah ‘Panda Berkokok’. Acara yang selalu saya dengar sebelum berangkat sekolah waktu SMP (kelas 3-an lah). Jika kalian ingat lagu Sindentosca yang “Persahabatan bagai kepompong…”, nah! Itu adalah salah satu lagu yang paling sering diputar di acara tersebut. Kenapa? Karena waktu itu masih dalam masa voting program Prambors NuBuzz, bersama Mizta D, Dubyouth, Coffee and Cream, dsb. Bahkan ketika saya bergumam menyanyikan lagu tersebut di kelas waktu itu, saya seperti orang tolol (yang mungkin orang yang mendengar akan berkata dalam hati ‘lagu opo kuwi?’). Dan sayangnya… lagu tersebut akhirnya populer dan meledak di pasaran dan lebih dikenal sebagai soundtrack sebuah sinetron di SCTV. Dafuq.

Cici Panda
Panda sendiri selalu membawakan acaranya dengan baik, bisa dibilang lucu. Namun sayang, ketika dia hamil dan melahirkan, akhirnya harus digantikan.

4.      Tika Yusuf
Merupakan penyiar radio lokal Yogyakarta, Swaragama FM (101,7). Pertama kali saya kenal lewat program Rock of Fame dan pindah ke Tika and Friends (in the morning). Yap, lagi lagi acara radio pagi pagi memang paling ampuh untuk menemani saya memulai hari. Saya ‘menilai’ Tika Yusuf sebagai orang yang inspiratif, smart dan sering membawa keceriaan. 
Tika & Friends
Hal yang paling saya ingat dan menyedihkan tentu saja adalah siaran terakhir Tika Yusuf di Swaragama karena dia akan memutuskan untuk mengabdikan dirinya untuk Indonesia Mengajar. Waktu itu, yang kebetulan saya lagi libur kuliah, dan untungnya tahu kalo itu adalah siaran terakhir dia. Mungkin bisa dibilang waktu itu Twitter saya, saya penuhi dengan tweet yang menyatakan kesedihan, pertanyaan, dsb. Kenapa harus pergi. Apalagi ketika saya streaming live video dari ruang siarannya. Terlihat di sana suasana sangat mengharukan. Entah, mungkin itu adalah salah satu perpisahan paling mengharukan yang pernah saya lihat secara live. Lebay? Mungkin anda bisa bilang seperti itu. Tapi tidak bagi saya, orang yang selalu menemani tiap pagi hari saya dengan segala inspirasi dan moodbooster-nya harus meninggalkan kita semua.

5.      Gaby Stephanie
Salah satu penyiar Geronimo FM (106,1 FM) favorit saya saat ini. Kenapa? Dari program yang dibawakannya saja itu sudah sangat keren menurut saya, Recycle Jam (memperdengarkan lagu lagu cover version), Ajang Musikal (memperdengarkan band band Indie), Indiana Zones (yang satu ini sebenarnya merupakan program yang memutar lagi International Hits biasa, tapi pilihan lagu dari dia selalu menjadi penyemangat karena lain dari yang lain, seperti SoKo, The Cardigans, Camera Obscura, She & Him, dan musisi musisi lain yang bisa dibilang ‘gak biasa’ bagi orang ‘biasa’). Itu yang paling saya favoritkan, pilihan lagu yang satu selera dengan saya, yang bagi sebagian (besar) orang akan menganggap ‘iki lagu opo sih caaah…’ Dan mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa followers-nya gak sebanyak Komang Metri atau Prita hehehe :p (tapi santai wae mbak, aku follower mu kok haha)


Memang ketika siaran terkadang selalu belibet, tapi justru kadang itu yang menjadi lucu. Bahkan ketika saya membaca blog-nya, saya merasa tidak sendirian. Ada beberapa idealisme dan sikap yang kurang lebih sama. Dan salah satunya idealisme memutar lagu lagu cutting edge itu tadi hehehe.

Sekian dari saya. Masih berpikir acara musik pagi adalah opsi terbaik untuk mengetahui perkembangan musik dunia? Radio lokal daerah anda mungkin jauh lebih baik!

Tuesday, August 27, 2013

Memori Gulungan Pita Hitam



Beberapa bulan lalu saya dikejutkan dengan ditutupnya Toko CD dan Kaset di Jalan Colombo. Oke, awalnya saya berpikiran positif ‘Ah, mungkin ini lagi direnovasi biar lebih gede lagi’. Tapi ketika saya balik beberapa waktu lalu (sebelum bulan Ramadhan) kok gedung tersebut sudah berganti ‘judul’ menjadi warung makan ala ala Korea. Duh, semacam heartbreaker. Hal yang saya sesalkan, andai tahu bahwa took tersebut mau tutup, pasti ada cuci gudang atau semacamnya, dan saya ada inceran beberapa items kaset yang belum sempat kebeli gegara belum ada duit.

Sebenarnya bukan kali ini saya dikejutkan dengan ‘kehilangan’ ini. Dulu, di Malioboro Mall, waktu saya SMP masih ada toko kaset di lantai 2 atau 3 saya lupa. Namun ketika udah kuliah gini saya cek lagi sudah tidak ada lagi.  Maka timbul satu pertanyaan, sudah tersingkir kah kaset? Atau bahkan bentuk fisik secara keseluruhan juga sudah tidak laku?

Pertemuan saya pertama kali adalah ketika dulu masih SD kelas 6, saya mampir ke Malioboro Mall yang saya jarang jarang ke sana untuk ukuran anak SD. Waktu itu di radio maupun MTV memang lagi masa dimana Green Day bangkit lagi. Lagunya banyak diputer sehingga saya tertarik untuk membeli kaset American Idiot dan International Superhits meskipun waktu itu saya belum punya tape (pemutar kaset) hehehe.

Duo pertama saya
Yang paling berkesan dari kedua kaset tersebut adalah saya pernah presentasi Bahasa Indonesia tentang tokoh idola waktu SMP kelas 1, dan saya bercerita tentang Green Day dan saya menggunakan kedua kaset tersebut sebagai visualisasi. Bahkan kaset American Idiot sempat dipinjem Indika ampe artwork-nya lusuh.

Kegemaran saya itu berlanjut untuk menambah koleksi kaset lain. Dan absurd-nya, saya pernah beli kaset kaset yang saya anggap blunder, seperti: Kompilasi AFI Menuju Puncak yang beli-nya di WS (bahkan sekalian yang AFI 2), kemudian Dream Band (entah yang tahun berapa) dan Kotak(yang waktu lulusan Dream Band pertama pas vokalisnya masih Pare dan basisnya masih Ices sebelum pindah ke TRIAD). Ya, untuk Kotak mungkin bisa dimaafkan. Bahkan bisa dibilang musiknya lebih ngerock dari sekarang (meskipun Tantri sekarang suaranya lebih ngerock)

Kegemaran lain adalah seringnya minjem kaset ke temen lain yang mungkin punya passion yang sama dalam mendengarkan musik. Tapi ada yang songong nih, temen SMP namanya Tito hahaha. Ketika pulang sekolah waktu SMP naik bus sukanya sambil dengerin walkman, pernah karena penasaran kaset yang dia dengerin apa, ternyata (yang saya inget) adalah Simple Plan dan… Radja. 2 band dengan masa kejayaan yang sama. Simple Plan dengan lagu ‘Welcome to my life’, ‘Shut up’, ‘Untitled’ dsb. Sedangkan Radja dengan ‘Tulus’, ‘Jujur’, ‘Bulan’, ‘Cinderella’ dsb. -___-

Temen lain yang bisa dipinjemin kaset adalah Intan. Seingetku, aku pernah pinjem kaset Maroon5 – Songs About Jane, pas Adam Levine masih ‘culun’ tapi musiknya lebih keren menurutku. Pernah juga minjem kasetnya Panic! At the Disco yang ‘A Fever You Can't Sweat Out’ yang menurutku artwork kolase nya sangat keren. Selain itu juga satu kaset kompilasi, tapi lupa apa judulnya. Semacam ‘International Fresh Hits’ atau apa lupa. Lumayan, satu kaset isinya ada lagunya Story of the Year, Avril Lavigne, Seether feat Amy Lee, dsb.

Koleksi juga bertambah ketika kelas 2 dan kelas 3 SMP. Mulai Good Charlotte, Green Day album album lama juga mulai koleksi, waktu itu baru Warning sama Dookie yang kesampaian. Pernah juga ‘malak’ Azi buat beliin kaset Good Morning Revival-nya Good Charlotte. Sering juga nitip kaset ke Bella, soalnya dia yang paling sering main ke Mall. Pernah juga punya album Greatest Hits-nya Blink182 sebelum mereka bubar (dan akhirnya reuni lagi) yang tinggal kasetnya doang. Gara gara wadah kaset sama artworknya diilangin sama Yuda :(
Ada juga kasetnya Sex Pistols yang minjem dari Adit Endog yang katanya aku suruh nyimpen aja.

Beberapa sisa koleksi
Pas udah SMA, saya gak pernah lagi dengerin kaset, adanya internet yang makin gila gilaan dan download yang lebih gampang (dan gratis dan illegal) membuat saya lebih memilih ‘mengoleksi’ mp3. Untuk CD? Kaset yang 25rb aja enggak, apalagi buat CD yang harganya bisa 75 ribu buat band luar.

Pas kuliah, dimana bisa mampir waktu pulang kuliah, sering ngecek ke beberapa tempat tadi yang akhirnya harus tutup. Sebelumnya di Toko kaset Jl. Colombo tadi saya sempat menambahkan koleksi Green Day kayak Insomniac dan Nimrod. Bahkan beberapa CD yang cukup lama punmasih ada. Tapi semenjak toko tersebut tutup, saya pindah ke toko daerah Jl. Mataram. Bukan, ini bukan yang jualan CD bajakan yang di sepanjang jalan. Di situ saya lumayan menemukan ‘surga’. Beberapa stock kaset lama yang cukup bagus masih ada. Untuk CD band2 Indie juga cukup terorganisir dengan baik. Meskipun kadang juga cuma buat liat liat gegara duitnya emang gak ada. Dan yang paling favorit adalah saya nemu kasetnya The Mars Volta yang saya kira dulu tidak pernah dirilis di Indonesia.

The Mars Volta - Frances the Mute
Ah.. memang sekarang rilisan kaset dibilang gak ada lagi. CD pun juga bisa dibilang untuk band atau penyanyi Indonesia yang kadang cuma merilis single dan memilih untuk tampil di acara musik pagi. Well, that’s all. By the way, tape saya sekarang mulai rusak nih coy -_-

Wednesday, July 31, 2013

Talking 'Bout Life



Bahagia itu sederhana dan banyak caranya. Salah satunya adalah dengan buka bersama dengan teman teman lama yang mungkin cuma 1 kali setahun ketemu, atau bahkan sejak lulus SMA juga belum ketemu lagi.
Seperti biasa, acara dikoordinir dan dipercayakan kepada Mbak Reni dan Mbak Vivik. Kami selalu percaya kalo mereka bakal mampu mengurusi segala ‘ubarampe’ dengan baik. Karena kita yang lain kalo ditugasi belum tentu bisa hahahaha.
Kali ini tempatnya di Warung Joglo, sekitaran sawah sebelah timur RSUD Wates.

Katanya sih disuruh ngumpul jam 16.30, tapi aku yakin gak bakal kumpul semua jam segitu, sudah menjadi budaya kalo ngaret itu. Tapi ngaret pun gak masalah, dateng jam 7 pun masih kita beri toleransi sebenarnya, asal semua masih ngumpul dan warungnya belum tutup.
Berangkat jam setengah lima dari rumah, di sana udah ada Bowo, Bos Heru sama Olip. Terus dateng lagi Delicia, dan seterusnya.
Kita langsung ngobrol di depan pengeras, soalnya kalo masu masuk masuk takut nyasar. Ngobrol lah sama Bos Heru. Sebenernya sih kalo sama Bos Heru gak terlalu ngangenin, soalnya aku juga sering main ke kosan dia. Tapi pas yang lain dateng, termasuk Bayu, Vivik, Wiwin, dsb. Mulai dateng, ini acara sesungguhnya.
Setelah dirasa cukup banyak orangnya, kita langsung masuk ke dalem, kita sebenernya takut kalo ampe rubuh karena tempatnya terkesan reyot, terutama kalo yang naik seukuran aku semua.
Di dalem, pecaah semua. Aku yang baru dateng, belum apa apa langsung dikomentarin “Eric saiki gendut yoo…” dan sejenisnya. Emang sih, ga tau kenapa gara gara kuliah banyak tugas, aku jadi gak nyempetin buat olahraga.

Aku, Bayu sama Bos Heru langsung memainkan permainan lama, yaitu “Kenalan Aneh” (nama ini juga baru kepikiran sekarang). Yaitu suatu ‘permainan’ yang waktu dulu SMA, kita bertiga sering main. Kayak orang kenalan, salaman, terus nyebutin namanya, tapi nama yang aneh dan jarang kita denger, tapi pas kita ngomong kita langsung ingat dan ketawa. Misalnya: *salaman* *nyebutin nama*: Jay Jay Okocha. Kadang gara gara inget namanya, atau inget bentuknya kita langsung ketawa.

wujud asli Jay Jay Okocha
Nwankwo Kanu
Yang paling ganteng, Taribo West

Kalo Suprek sih gak kangen kangen amat, soalnya seminggu sebelumnya kita nonton ARTJOG di TBY. Jadi sempet cerita cerita perkembangan dunia perkuliahan.
Gak banyak yang berubah dari yang lain, Opil masih ‘terlihat’ oon, Wiwin juga masih sama, Delicia juga belum putus dari pacarnya, Olip dengan jersey Real Madrid bertuliskan Londoliv-nya pun tampaknya tidak banyak berubah kecuali dia kini menjadi vokalis band di kampus. Mungkin yang terlihat cukup ‘memprihatinkan’ buat aku adalah Itna. Entah kenapa, dia semakin vulgar dan terlalu blak-blakan. Dia cenderung responsif, agresif, akumulatif, dan if if yang lain. Intinya dia menjadi semakin saru. Sangat disayangkan, sebagai calon pendidik anak bangsa.

Bodohnya, si Fito yang sudah sampai Wates malah merasa dibohongi, dan dia balik lagi ke rumah. Pas ditanyain, dia malah udah di rumah, padahal kita semua udah nungguin. Yang cukup salut adalah Bogie. Sebelumnya aku sms dia, kira kira pulang tanggal berapa, dia bilang tanggal 30, ada Semester Pendek katanya. Pas Reni bilang bakal ada buber lagi, aku sms lagi, bisa apa gak. Dia bilang gak bisa kalo tanggal 27. Sampai si Reni minta aku buat bujuk si Bogie. Aku pun udah bilang ke Reni kalo Bogie gak bisa.
Tapi pas udah jam 5, Bogie sms Bos Heru, katanya suruh pesenin makanan, dikiranya boongan, tapi ternyata beberapa menit kemudian muncul wujud aslinya. Well, aku sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Bogie, yang mungkin masih sibuk, dan dia sempet masih ada tugas yang belum dikumpul, jauh jauh dari Semarang, masih menyempatkan diri buat pulang sebentar. Terkadang kita yang rumahnya sama sama Kulon Progo, tiap hari ke Wates mungkin, malah gak dateng di acara yang cuma setahun sekali ini. Mungkin sibuk dengan pekerjaan, mungkin dengan tugas, orang tua, atau bahkan pacar? Only God knows.

Ada banyak hal hal kecil yang menarik, seperti tulisan “Awas G’jedot” di pintu dalam, sedangkan di pintu luar tulisannya “Awas Kejedot”, yang bener yang mana?
Terus pas kejadian Bayu minta air kobokan jauh jauh, padahal ada di depannya. Aku sendiri juga pas mau wudhu, aku minta biar ada yang ambil gayung terus ngalirin air dan gak nyadar kalo ada kran. Kejadian waktu Olip gagal pipis gara gara gak ada air, dsb.

Abis buka bersama, kepinginnya aku sama Bayu sih pada ngumpul dulu, cerita cerita kehidupan setelah lulus SMA. Tapi apa daya, mungkin ada kesibukan lain, jadi temen temen gak bisa.
Alhasil cuma aku, Bayu, Suprek dan Bos Heru yang ngumpul di Alwa. Seperti 4 gondhes yang mencari mendhes di malam Minggu. Kita ngobrol di depan Rutan Wates, yang malah dibecandain Bos Heru “Mana Decky? Mana Decky?”.
Tujuan kita bukan melihat alun alun-nya, atau melihat cewek yang lewat, kita lebih ke bercerita tentang hidup, Talk about life.
Cerita gimana kuliah kita, cerita umur segini harus mulai serius ke jenjang berikutnya (seriusan ini), dsb. Termasuk kalo kita memiliki pandangan yang sama tentang bagaimana biaya hidup di kampus, gaya hidup cewek di kampus, aku dan Bayu memiliki pandangan yang sama. Mungkin Suprek tidak mengalami, karena kampusnya di Wates yang gaya hidupnya kurang lebih tergolong standar lah.
Ngomong tentang bagaimana sekarang itu hidup dikontrol oleh sebuah kertas yang bernama uang. Gak perlu ganteng, gak perlu pinter, asal bapak ente mau beliin ente mobil atau ‘montor lanang’, cewek cewek pada milih ente.
Cerita bagaimana IP tergantung di tangan dosen. Ini mengembalikan memori kita bahwa Bayu dan aku, walaupun sebagus bagusnya pekerjaan kita, tetep gak dapet nilai yang bagus,
Bayu juga cerita kalo di kampus, dia juga merasa kalo yang setara sama dia mungkin cuma Anteng, dan yang lain lebih ke high class. Hal yang sama dengan aku.
Memang sih, banyak anak Kulon Progo, yang kuliah di Jogja, gaya hidupnya juga berubah, yang dulu makan di warung soto pojokan Alun Alun sekarang makannya di Waroeng Steak, yang dulu minumnya es the di pinggir jalan, sekarang nyusu di Kalimilk. Bahkan aku dan Bayu sempat berpikir, jangan jangan orang yang seperti itu sudah gak mau ngumpul lagi sama kita, gak mau lagi ketemu temen temen lama. Lagi lagi, Only God knows.

Ah, sudahlah, yang penting buber udah dilaksanain, gak bisa dilihat apa yang kita makan, dimana tempat kita kumpul, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga tali silaturahmi di bulan yang suci ini dan bagimana menjaga keutuhan layaknya saudara kita sendiri, because we are family. Wabilahitaufik wal hidayah *kok malah ceramah*
Well, yang sudah datang harus kita pertahankan, karena kita sendiri yang butuh, tidak ada yang memaksakan. Untuk yang belum datang atau berhalangan, kami juga memaklumi. Mungkin ada yang mengira dibohongi kayak Fito tadi, atau ada acara pengajian yang mungkin lebih penting, acara keluarga, urusan ‘pribadi’. Ya kita juga maklum, mengingat acara dilaksanakan di malam Minggu. Well sekian dulu dari saya, semoga bertemu lagi di lain waktu teman teman Palu!! Palu Josss!! Woyo Woyo Joss!