Thursday, May 16, 2013

Part of the History



Pas tutorial, Mia kepo banget pengen tau pembicaraanku sama Ericko. Saya gak jawab. Tapi dia langsung bilang “Pasti ngomongin bola! Di twitter kamu ngetwit Moyes Moyes. Hahaha”
Jawaban hampir benar. Bukan Moyes yang saya bicarakan dengan Ericko. Saya memberi selamat atas gelar juara Barcelona.

Tapi, kalo dipikir saya adalah orang yang terlalu banyak ngetwit atau ngeritwit hal tentang sepak bola. Mungkin itu hanya hal yang saya bisa lakukan. Tentu saya bukan pemain sepakbola (lagi), atau pemain futsal atau bahkan pelatih. Berkomentar, itulah yang saya bisa. Begitu juga posting saya kali ini yang hanya akan mengomentari beberapa momen akhir akhir ini.

Akhir pekan minggu kedua di bulan Mei 2013. Bukan Piala Dunia, tetapi saya merasa bahwa saya adalah ‘part of the history’. Ya, ada 3 momen yang menurut saya bisa saya bagikan kepada anak cucu saya yang mungkin suatu saat nanti membaca blog saya ini :v .

Pertama. Adalah gol ke 202 dan ke 203 Frank Lampard.
Bertandang ke kandang Aston Villa yang butuh kemenangan agar terhindar dari jurang degradasi. Tapi perlu dicatat, Chelsea juga sangat butuh kemenangan demi memastikan tiket Liga Champions musim depan.
Baru beberapa menit, dengan tendangan tak sempurna, Benteke justru mampu mengecoh Petr Cech yang terlihat mati langkah. Aston Villa unggul 1-0. Niat mengejar ketertinggalan, Ramires justru memperoleh kartu kuning kedua akibat dianggap mengangkat kaki terlalu tinggi. Butuh kemenangan justru tertinggal 1-0 dan bermain dengan 10 pemain.
Di babak kedua asa itu datang. Giliran Benteke yang memperoleh kartu kuning kedua akibat kaki terlalu tinggi terhadap John Terry. 10 melawan 10.
Kemudian keajaiban itu datang. Bergerak dari kanan dengan umpan Eden Hazard, Lampard menaklukkan Brad Guzan di pojok kanan atas gawangnya. 1-1. Sekaligus gol ke 202 Lampard di Chelsea. Menyamai gol Bobby Tambling.
Sekali lagi. Hari itu menjadi harinya Super Lamps. Lagi lagi Hazard. Kali ini dia bergerak dari kiri, melewati beberapa pemain dan mengirim umpan tarik ke tengah. Dengan sedikit sontekan Lampard mencetak gol. Skor 1-2. Gol ke 203 Lampard melewati rekor Bobby Tambling. Sekaligus membawa Chelsea lolos ke Liga Champions musim depan. Jujur, saya berkata “Edaaaan” ketika Lampard melesakkan gol ke 203-nya.




Kedua. Piala pertama Wigan setelah 81 tahun.
Iba rasanya melihat Wigan ditaklukkan Arsenal 4-1 dua hari yang lalu. Itu mengirim mereka menjadi tim terakhir yang harus degradasi ke divisi Championship musim depan.
Namun di hari Sabtu sebelumnya, saya menyaksikan betapa hebatnya, betapa luar biasanya mental pemain Wigan saat melawan Manchester City.
Saya memuji permainan Espinoza, McManaman dan Shaun Maloney. Menurut saya ketiga pemain tersebut adalah pembeda di babak kedua. Meskipun Ben Watson sang supersub lah yang akhirnya menentukan kemenangan Wigan di menit terakhir pertandingan.
Bukan salah Aguero, bukan salah Yaya Toure atau bahkan Joe Hart. Ini murni semangat juang pemain Wigan yang luar biasa.
Tentang Joe Hart, dia memang menjadi pembicaraan hangat. Di laga final tersebut, merupakan laga debut Joe Hart di Piala FA. Sebelumnya City memansang Costel Pantilimon di bawah mistar. Dan itu juga yang menurut saya menjadi kunci City menghentikan laju Chelsea di semifinal akibat bola bola atas ‘favorit’ Demba Ba selalu didahului Pantilimon.
Bisa jadi Joe Hart belum panas. Bisa jadi apa pun alasannya. Laga final adalah final. Kesalahan sekecil apa pun memang mampu merubah takdir.
Tetap semangat, Wigan!


Ketiga. Menyaksikan laga kandang terakhir Sir Alex Ferguson.
Guard of Honour untuk Sir Alex, menandai 26 karir kepelatihannya bersama Manchester United. Saya bukan penggemar Sir Alex. Saya tidak menyukai gaya bicaranya di depan media, selalu mencari kesalahan wasit ketika timnya dirugikan. Namun berkat dirinya, transfer yang dia lakukan, membeli orang Perancis dari Leeds United. Yang kemudian menginspirasi ayah saya untuk memberi sebagian namanya kepada saya. Eric Cantona. #RespectSirAlex
Nikmati masa senjamu, sang jenius. Selalu sehat dan di dalam lindungan Tuhan :))


Wednesday, May 15, 2013

Choice



Ada hal yang saya rindukan akhir akhir ini. Bukan, bukan belaian wanita atau belaian lain. Saya rindu menulis. Iya. Terutama di blog ini.

Beberapa bulan terakhir ini, membaca blog atau tumblr orang orang saja sudah jarang. Saya lebih sering membaca buku karangan Quinn atau Virology-nya Fenner. Bahkan ada beberapa buku yang saya tertarik untuk membeli tapi belum tertarik untuk membacanya.

Gegara chattingan sama sebut saja namanya Lucho, dan dia merekomendasikan tumblr gebetannya, saya jadi tertarik untuk membaca dan menulis lagi. Ya, terkadang tulisan paling menarik dibaca adalah tulisan yang datang dari curahan hati. Jadi wajar kalo ada orang yang diem diem baca diary kakaknya (masih jaman ya?) atau liat hape, cari tau sms-an sama siapa. Beberapa tulisan tentang diri sendiri dan lingkungan sekitar merupakan hal yang simple, tapi terkadang juga bisa menimbulkan inspirasi bagi orang lain.

Gegera Lucho, saya juga kembali mempertimbangkan tentang suatu hal yang bernama’gebetan’. Well done, itu hanya jadi pikiran sesaat. Saya jadi teringat teman sebangku saya waktu SMA, si Bekantan. “High class girl needs high class treatment” (kalimat aslinya gak kayak gitu sih, bahasa Jawa malah, tapi intinya kayak gitu). Nah, permasalahannya lagi adalah, di jaman sekarang, semuanya udah jadi high class girl. Antara emang high class yang bener bener mapan, atau emang berusaha jadi high class.

Overload information emang jadi bumerang bagi kita masyarakat Indonesia. Menjadi orang yang ‘gumunan’. Budaya konsumtif, meski saya kenal banyak teman yang mampu hidup dengan cara yang disederhanakan. Tapi terkadang juga ingin, menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk satu malam. Bukan, bukan hal negatif seperti yang anda bayangkan. Konser Weezer lewat, Sigur Ros lewat, Blur lewat. Ibaratnya kita gak punya bekal untuk berjodoh.

Minimal di sosial media lah. Saya lebih sering menyampah tentang sepakbola, tentang musik yang followers saya belum tentu ngerti dan belum tentu peduli dan cenderung mendekatkan diri saya ke lubang ‘unfollow’. Saya memang tidak seperti teman SMA saya dulu, yang kini sangat hobi instagram-an dan foursquare-an, dan ‘merekomendasikan’ makanan dan restoran yang bagus lewat update status. (bagus buat dia belum tentu bagus buat dompet saya sih). Ah.. sudahlah. Saya juga tidak seharusnya peduli dengan gaya hidupnya yang sekarang. Seperti halnya dia tidak peduli dengan hari ulang tahun saya selama 2 tahun berturut turut. Ngomong apa saya ini.

Mengutip kalimat dari gebetannya si Lucho dengan sedikit adaptasi. “Saya di sini hanya untuk menonton sirkus. Tapi kalau ada yang mau saya belikan permen kapas, itu adalah bonus” :))

Have a simple life :))