Wednesday, May 15, 2013

Choice



Ada hal yang saya rindukan akhir akhir ini. Bukan, bukan belaian wanita atau belaian lain. Saya rindu menulis. Iya. Terutama di blog ini.

Beberapa bulan terakhir ini, membaca blog atau tumblr orang orang saja sudah jarang. Saya lebih sering membaca buku karangan Quinn atau Virology-nya Fenner. Bahkan ada beberapa buku yang saya tertarik untuk membeli tapi belum tertarik untuk membacanya.

Gegara chattingan sama sebut saja namanya Lucho, dan dia merekomendasikan tumblr gebetannya, saya jadi tertarik untuk membaca dan menulis lagi. Ya, terkadang tulisan paling menarik dibaca adalah tulisan yang datang dari curahan hati. Jadi wajar kalo ada orang yang diem diem baca diary kakaknya (masih jaman ya?) atau liat hape, cari tau sms-an sama siapa. Beberapa tulisan tentang diri sendiri dan lingkungan sekitar merupakan hal yang simple, tapi terkadang juga bisa menimbulkan inspirasi bagi orang lain.

Gegera Lucho, saya juga kembali mempertimbangkan tentang suatu hal yang bernama’gebetan’. Well done, itu hanya jadi pikiran sesaat. Saya jadi teringat teman sebangku saya waktu SMA, si Bekantan. “High class girl needs high class treatment” (kalimat aslinya gak kayak gitu sih, bahasa Jawa malah, tapi intinya kayak gitu). Nah, permasalahannya lagi adalah, di jaman sekarang, semuanya udah jadi high class girl. Antara emang high class yang bener bener mapan, atau emang berusaha jadi high class.

Overload information emang jadi bumerang bagi kita masyarakat Indonesia. Menjadi orang yang ‘gumunan’. Budaya konsumtif, meski saya kenal banyak teman yang mampu hidup dengan cara yang disederhanakan. Tapi terkadang juga ingin, menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk satu malam. Bukan, bukan hal negatif seperti yang anda bayangkan. Konser Weezer lewat, Sigur Ros lewat, Blur lewat. Ibaratnya kita gak punya bekal untuk berjodoh.

Minimal di sosial media lah. Saya lebih sering menyampah tentang sepakbola, tentang musik yang followers saya belum tentu ngerti dan belum tentu peduli dan cenderung mendekatkan diri saya ke lubang ‘unfollow’. Saya memang tidak seperti teman SMA saya dulu, yang kini sangat hobi instagram-an dan foursquare-an, dan ‘merekomendasikan’ makanan dan restoran yang bagus lewat update status. (bagus buat dia belum tentu bagus buat dompet saya sih). Ah.. sudahlah. Saya juga tidak seharusnya peduli dengan gaya hidupnya yang sekarang. Seperti halnya dia tidak peduli dengan hari ulang tahun saya selama 2 tahun berturut turut. Ngomong apa saya ini.

Mengutip kalimat dari gebetannya si Lucho dengan sedikit adaptasi. “Saya di sini hanya untuk menonton sirkus. Tapi kalau ada yang mau saya belikan permen kapas, itu adalah bonus” :))

Have a simple life :))

No comments: