Friday, January 17, 2014

Matinya Kewarasan



Saya cukup terkejut pagi ini ketika salah satu teman saya, Mega, meng-share status Deddy Corbuzier dan salah satu meme dari Meme Comic Indonesia. Yang intinya adalah: Hitam Putih sudah resmi berhenti tayang!
Memang, seperti biasa, selalu nge-scan acara apa yang bagus dengan memindah channel TV ke channel yang lain. Yang biasanya jam 9 ada Hitam Putih tapi ini masih OVJ. Saya cuma berpikir, ‘wah, Hitam Putih tayang jam 6.15 lagi kayaknya’. Ternyata cukup mengejutkan bahwa Hitam Putih memang sudah tidak lagi tayang.

Momen bersama Anu ini mungkin akan dirindukan

Mungkin bisa dibilang ini adalah puncak dari semua spekulasi yang selama ini mengambang. Sebelumnya, beberapa waktu lalu, teman saya yang lain, Udin, ngetwit yang isinya adalah Hitam Putih akan mengganti host-nya dari Deddy Corbuzier menjadi Farhat Abbas. Rencana apalagi ini? Penurunan kualitas? Yang akhirnya si pengacara itu hanya ditampilkan sebagai pendamping. Tapi, ternyata akar permasalahannya satu: ‘katanya’ ratingnya turun. (Entah isu ini benar atau tidak)

Banyak asumsi apa yang menyebabkan rating Hitam Putih turun. Ada yang bilang kualitasnya menurun. Saya tidak pernah menilai kualitas acara ini menurun, tapi kalo ada hari hari tertentu yang mana bintang tamunya kurang menarik untuk disimak, saya katakan: Ya. Tapi itu wajar, bahkan Sir Alex Ferguson pasti punya hari yang buruk, sehebat apapun dia. Soal rating yang turun? Banyak yang mengatakan bahwa dengan menampilkan Farhat Abbas-yang kontroversial, akan membuat masyarakat tertarik untuk nonton dengan harapan ‘wah, si Parhat mau ngomong apa lagi nih’. Untuk semua orang yang doyan gosip dan kontroversi, ya, ini cara yang sangat manjur. Tapi apa itu saja cukup? Justru untuk orang yang gak suka orang semacam Parhat hobi ‘nggambleh’ kalo orang Jawa bilang, justru akan pindah channel atau bahkan mematikan TV.

Yang lain lagi bilang bahwa Hitam Putih itu kalah saing dengan acara sebelah yang hobi goyang (yang mana berasal dari korporasi yang sama meskipun beda TV). Saya harus bilang bahwa ini alasan yang paling masuk akal. Bahkan, banyak acara serupa, dengan  konsep yang sama, dengan berbagai modifikasi pun tidak mampu menyaingi acara tersebut. Kita semua harus mengakui, bahwa acara tersebut menjadi sangat viral. Banyak anak-anak yang lebih ‘terinspirasi’ untuk goyang daripada terinspirasi oleh bintang tamu Hitam Putih. Kenapa itu bisa terjadi? Mudah saja, nonton acara TV dengan semi-full-goyang itu GAK PERLU mikir. Iya, apalagi acara tersebut terkadang suka membuka berita yang belum tentu benar dan masih dalam lingkup pribadi (bahasa kasarnya aib) para talent-nya, yang mana masyarakat akan makin suka kalo hal tersebut makin dikorek. Apalagi dulu sempat ada cekcok antara Rapi Amat sama Tara Budeman yang memperebutkan Cinca Lawra. Terlepas itu cuma settingan atau beneran, masyarakat Indonesia tertarik untuk melihat konflik tersebut. Ditambah lagi, mungkin ini yang jadi daya tarik utama: ada jutaan rupiah yang setiap hari dibagikan. Bagi bagi duit ini bahkan tidak cuma acara goyang malam hari aja, acara musik pagi pun lebih fokus ke bagi bagi duit daripada menampilkan pertunjukan musik yang berkualitas.

Namun bukan berarti Hitam Putih harus membagi bagikan duit tiap hari ke penonton hanya buat nonton Deddy Corbuzuier goyang. Bahkan saya pikir, orang yang datang untuk menonton langsung ke studio datang untuk terinspirasi dan sekaligus terhibur, tidak malah untuk dibayar (untuk tertawa). Tapi jika ada hadiah untuk penonton sebagai apresiasi kesetiaan mereka, mungkin wajar, seperti yang dilakukan Oprah Winfrey Show. Tapi untuk kami semua, yang menonton untuk mendapat hiburan sekaligus terinspirasi, konsep seperti sebelumnya saja sudah cukup, kami akan terus berharap dan hanya bisa berharap acara ini masih ada, meskipun mas Deddy lewat twitter-nya juga sudah mengatakan ‘What done is done’. Kami sangat menyayangkan, satu lagi acara inspiratif yang harus bubar jalan.

Kalau boleh mengatakan, terlepas dari alasan apapun bubarnya acara Hitam Putih, acara itu sudah memiliki tempat di hati kami, ribuan, mungkin jutaan rakyat Indonesia yang terinspirasi. Layaknya band Queen, tidak pernah satu kali pun mereka memenangkan Grammy Awards, tapi paling tidak ada jutaan di luar sana yang terinspirasi dan memuja, bahkan ketika sang vokalis sudah tiada dengan segala kontroversinya. Hitam Putih tidak perlu menang Panasonik atau award award lain. Kalian sudah memenangkan hati kami.

Acara talkshow mungkin banyak di Indonesia dan bervariasi, ada yang cuma modal laptop tanpa ngerti apa yang diomongin, ada yang cuma modal guyonan dan diselingi relaksasi (yang dulu bilangnya hipnotis) dan macem macem. Tapi cuma satu yang bisa paham psikologi dan mampu mengolah acara menjadi hidup.

Terima kasih telah menginspirasi kami. Terima kasih telah menginspirasi Indonesia. Jangan pernah berhenti menginspirasi.

-          Kami menunggu ‘kewarasan’ dunia ini datang kembali      -

No comments: