Thursday, May 8, 2014

Mencari Orisinalitas



sebelum membaca: Ini adalah pandangan pribadi saya, seorang penggemar komedi yang dibawakan secara cerdas.

Ini adalah musim ketiga saya menonton Stand Up Comedy Indonesia (sering disingkat SUCI) di Kompas TV. Saat ini memang sudah generasi keempat yang naik panggung, namun pada generasi pertama saya belum mengenal secara dekat apa itu stand up comedy, karena waktu itu RBTV belum merelay tayangan Kompas TV. Ya, meski waktu itu beberapa teman yang punya koneksi internet bagus bisa menonton aksi dari Ernest dan kolega. Beberapa berbagi cerita di linimasa twitter, bercerita jika di luar sana ada kompetisi yang jujur apa adanya, dinilai dari kualitas, bukan berdasar massa yang berkantong tebal untuk mengirim sms dukungan agar juara meski kemampuan cuma apa adanya.
Saya cukup terkejut waktu itu ketika mas Wisben yang setiap hari Minggu saya tonton di Obrolan Angkring TVRI Yogyakarta ternyata menjadi salah satu pesertanya. Saya juga tidak menyangka jika Wisben akan membawa sulapnya ke atas panggung komedi. Mas Gareng juga merupakan salah satu comedian yang punya nama di kota Jogja.

SUCI 1 selesai tanpa hingar bingar. Namun setelah itu apa? Seakan akan SUCI 1 menjadi penggerak bagi munculnya para stand up comedian (sering juga disebut komik/komika) baru atau juga lama, namun belum mendapat expose yang cukup. Di Metro TV sempat diadakan acara open  mic, dimana menjadi ajang bagi komika baru untuk menambah jam terbang atau sekedar mencoba materi baru. Di program ini saya juga mengenal Om Ramon Papana, yang bisa dibilang tahu banyak soal teknik stand up comedy. Sedikit banyak saya tahu apa itu punchline, apa itu premis, apa itu set up, rule of three, callback, act out, dan berbagai teori stand up comedy. Yang kalau saya disuruh mempraktekkan tidak akan bisa.

Kemudian juga ada program semacam stand up night di Metro TV, dimana saya juga mulai mengenal berbagai komika kawakan, macam Abdel (walaupun sebelumnya juga sudah familiar sebagai komedian), Cak Lontong, Mongol, Soleh Solihun, Mudi Taylor, Miund, Adjis Doaibu, McDanny, Sammy, dsb.

Saya tidak tahu, apakah sekarang masih ada program itu di Metro TV, dan apakah masih dengan materi dari komika yang berkualitas, saya tidak tahu karena sinyal Metro TV di rumah saya sudah tidak sebagus dulu hehehe.

Ketika SUCI kembali lagi dengan season keduanya, semakin memperlihatkan bahwa sudut pandang stand up comedy itu berbagai macam. Jujur saja, waktu itu saya menebak bahwa Ge Pamungkas bakal jadi juara. Tidak mungkin saya menebak Kemal yang bakal jadi juara, kecuali ditentukan lewat sms. Walaupun Gilang Bhaskara merupakan komika yang dibilang cerdas, dengan materi yang dapat dia ambil dari data yang aktual, namun Ge lebih komplit dalam penyampaian materinya.
Begitu juga di season ketiga, everybody likes Fico, tapi disukai saja belum cukup. Fico memang lucu, tapi belum komplit. Babe Cabitaa memang agak gila, dia sangat lengkap walau gayanya terkadang absurd, namun tidak seabsurd Fico yang ngobrol dengan botol atau robot.
Di dua season ini yang saya tonton, gairah orang orang untuk membicarakan mereka tidak terlalu tinggi. Di twitter tidak banyak yang menuliskan atau mengomentari mereka. Di obrolan sehari hari pun tidak banyak yang mengomentari mereka, bahkan membicarakan materi yang mereka bawakan. Tidak pernah terdengar obrolan materi Boris Bokir tentang angkot, atau bercerita tentang Mamaknya. Tidak ada juga yang membicarakan berapa harga besi yang mungkin saja dijual Muslim.

Entah virus apa, di season 4 ini mulai banyak yang berbicara soal SUCI, entah di linimasa twitter, facebook atau di kehidupan sehari hari. Dari sekian banyak komika yang ada, satu yang selalu jadi omongan: Dodit. Di twitter banyak yang bilang Dodit lucu, di facebook banyak yang neg-share videonya dan bilang lucu, di kampus yang dulu adem ayem sekarang mulai ngomongin Dodit dan ‘iya kamu’-nya.
Dodit TIDAK SEBAGUS ITU. Kenapa saya bilang seperti itu. Persona komika dengan gaya slow cenderung membosankan jika tidak diakhiri punchline yang efektif. Waktu menjadi percuma ketika orang nungguin set up-nya lama banget ternyata punchline nya kurang dapet, beberapa kali Dodit pernah mengalami itu.
Kemudian Dodit berkembang tidak terlalu pesat. Apa yang dia bawakan dari awal dia masuk hingga sekarang cenderung konstan. Bagus sih, tapi tidak menanjak. Ketika dia menyampaikan ‘iya kamu’, sebagian penonton sudah bosan, termasuk saya. Tapi buat yang cuma sekedar suka lucu-lucuan itu hal yang lucu. Tapi kembali lagi, ini pendapat pribadi, dan saya juga lebih suka materi yang berbobot, ada kritik sosial di sana, ada pesan yang ingin disampaikan kepada kita secara cerdas namun dapat dipahami.
Kemudian, sebagian akan ‘waaaaah’ ketika Dodit mulai menggesekkan biolanya. Penggunaan biola mungkin dapat mendongkrak penampilannya, tapi materi itu sendiri yang lebih penting.

Kembali lagi, ini pendapat saya secara personal. Saya lebih suka materi yang lebih berbobot tapi disampaikan secara asik. Saya secara pribadi memprediksi 3 besar SUCI 4 akan diisi Abdur, Dzawin dan David. Maaf tidak ada nama Dodit di situ.
Kenapa mereka bertiga? Abdur datang sebagai orang timur sekaligus mahasiswa S2 dengan materinya yang sangat jujur. Satu model dengan Arie Kriting, namun dengan materi yang lebih berbobot. Ada kritik terselubung yang selalu dia sampaikan. Jika kalian menonton setiap minggunya, bukan cuma sepotong satu penampilan, anda akan melihat bahwa orang ini sangat meningkat progress-nya.
Kemudian David. Saya tidak menyangka dia akan sejauh ini. Awalnya dia terlihat biasa, namun kemudian di menemukan persona-nya sebagai anak Betawi dengan berbagai problematikanya. Membawa masalah yang mungkin dekat dengan kita, dan kemudian kita akan berpikir ‘iya juga ya’. Kalau boleh saya bilang, asiknya nonton stand up comedy adalah ketika kemudian kita berpikir setelah menyaksikan suatu pertunjukan.
Kemudian ada juga Dzawin. Pada saat audisi, dia terlihat biasa saja, bercerita tentang kehidupan pesantren yang saya kira dulu akan membosankan ketika dia hanya berkutat di situ. Kemudian menjadi menarik ketika mengetahui bahwa dia juga seorang mahasiswa Bahasa Inggris. Bahkan di beberapa show, dia mencantumkan data yang ilmiah ke dalam materinya sebagai pendukung. Dia merupakan salah satu peserta dengan punchline paling ‘surprise’ di season ini. Bayangkan ketika anda serius mendengarkan dia bercerita tentang renungan ibu, Ia bercerita tentang ibu yang melahirkan kita, merawat kita, membesarkan kita, kemudian kita durhaka, dan kita disuruh membayangkan, ketika kita belum sempat meminta maaf, dan ketika kita pulang, di depan rumah kita terpasang bendera kuning, ternyata ibu kita jadi calon parta Gol*kar. Anjeeeeeeeng…. XD
Kita akan dapat merasakan emosi itu ketika menontonnya.
Bisa dibilang ketika anak muda ini yang progress nya yang paling baik.

Saya bukan membenci Dodit, bukan juga bermaksud menjatuhkan dia. Saya justru orang yang excited menantikan materinya, tentu saja materi yang lebih baik lagi. Memecah tawa memang tugas yang tidak sulit bagi dia. Tapi kemudian apa bedanya dengan Tukul Arwana atau Olga Syahputra jika tidak dibarengi dengan materi yang lebih berbobot?
Satu lagi, bagus atau tidak dapat dinilai ketika ada perbandingannya, atau melihat secara keseluruhan. Untuk hal ini melihat show SUCI secara full, dibandingkan. Karena kebanyakan orang menilai hanya ketika si A bilang Dodit lucu dan merekomendasikan ke B, si B hanya nonton Dodit saja di Youtube tanpa membandingkan dengan peserta lain, kemudian si B bercerita ke teman yang lain dan melakukan hal yang sama. Sayang sekali pandangan seperti itu yang mempersempit pandangan kita.
Selain itu, stand up comedy memang segmented, tidak semua paham dengan cara dan materi yang disampaikan. Mungkin banyak yang tidak suka Abdur karena materinya dianggap terlalu berat. Bahkan teman saya sempat ada yang membandingkan bahwa Arie Kriting lebih lucu. Bahkan ada juga yang berkomentar bahwa Raditya Dika tidak lucu, kenapa dia bisa jadi komentator, dsb. Pernah berpikir ketika ada seorang guru, kemudian muridnya lulus, kemudian muridnya tadi jadi manajer perusahaan dan gurunya tetap menjadi guru? Guru membagikan ilmu, dia menginspirasi. Ketika muridnya lebih baik atau setidaknya dianggap lebih baik dari dia, berarti guru itu berhasil menjalankan tugasnya.
Ya memang semua kembali ke selera sih. Saya menyampaikan ini sekedar menyampaikan unek unek saya saja. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Namun jika tidak suka boleh silakan berkomentar di bawah, terima kasih :)

1 comment:

Anonymous said...

Iye gan, moga aja cos emang gw dukungnya mreka b 3, yah wlaupun awalnya gw tertarik ama yudhakhel,,hehe krna sm2 org depok. Loh? spendapat gw ama lo, david, dzawin, ama abdur materinya luas trus d tambah punchline2 yg mantap2 jd kita gak muter2 di satu hal aj yg kita hrs tau hal itu detailnya kya gmna.. Padahal masih ada hal lain yg sesuai dgn tema yg mungkin bisa pecah jg kalo dibawain