Friday, October 9, 2015

Let Him Win



Tulisan ini disponsori oleh rasa puas setelah akhirnya menyantap hidangan di Warung Tio Ciu Bang Sinyo. Setelah sebelumnya gagal “gara-gara” ban motorku bocor dan merelakan godaan santapan  Tio Ciu. Worth It lah, apalagi disantap ketika suasana udara dingin di luar hmmm…

Awalnya bukan rencana untuk makan di situ. Awalnya aku iseng tanya ke Dijan soal foto studio bareng teman-teman KKN, ceritanya mau ngambil ke kosannya. Lama kelamaan dia ngechatnya ngasal kayak orang belum makan. Karena lapar merubah orang kalo kata Snick*ers. Lalu dia nyeletuk ngajakin makan Tio Ciu, dalam hati sih aku oke saja soalnya jadwalnya lagi agak kosong. Cuma waktu itu rencananya mau foto juga bareng temen-temen Koas untuk keperluan laporan (rencana awal jam 5 sudah take). Kemudian aku nanya, masa cuma berdua. Terus Dijan coba hubungi Deris. Seperti yang kukira, dia gak angkat telpon. Gak pernah. Hahaha. Akhirnya Deris dan Vava menyanggupi. Kemudian ternyata acara foto bareng anak Koas molor, gara-gara mobil salah satu teman mogok. Alhasil selesai take baru jam 6.45-an. Tiba-tiba Akbar nge-Line nanyain lagi dimana. Aku sih kaget, kenapa anak ini ikut juga wkwk.
Sorry juga mungkin buat Eno, Titta, Nur dan Dovi yang mungkin gak ada yang ngajakin soalnya ini juga dadakan banget.

berlima doang :((

Sebenarnya aku di sini gak mau bahas itu terlalu panjang. Aku pengen bahas satu hal yang menurutku cukup menarik tentang hubungan antara dua manusia.
Berdasarkan hasil analisa rumah-pohon-manusia nya Azka, aku punya hubungan yang cukup harmonis dengan orang-orang rumah. Tidak ada hal yang terlalu aneh. Menurutnya.

Well, that’s a fact untuk kondisi saat ini. At least aku sudah berada di tahapan dimana aku bisa mengontrol hidupku. Tapi mungkin ada satu fakta yang mungkin Azka juga tidak akan menyangka. Bahwa sebenarnya aku memiliki masalah yang sama dengan Deris. Paling tidak pernah mengalaminya. You hate your father for some reason.

Deris pernah menceritakan hal itu, beberapa kali. Dibahas bareng temen-temen. Di tempat Pak Panut, di Pondokan, sewaktu kerja, atau dimanapun yang mungkin aku lupa. Aku mencoba mengumpulkan semua cerita, latar belakang keluarga, dsb.

Pertama, kita dibesarkan di keluarga yang keras. Apapun bentuknya itu, kita sepakat bahwa didikan kita sewaktu kecil termasuk keras (paling tidak lebih enak hidup anak-anak kecil jaman sekarang). Mungkin kita pernah sama-sama mengalami tekanan secara fisik maupun verbal.
Mungkin benar adanya bahwa hubungan antara anak laki-laki dan ayah tidak akan pernah bisa se-romantis hubungan dengan sang ibu. Ada gap di sana, ada kecenderungan untuk bersikap profesional di sana, ada gengsi di sana, ada hal yang membuat anda tidak boleh terlihat lemah di hadapan sang ayah atau sebaliknya.
My dad never said anything about what I achieved. Hal yang sama yang dikeluhkan oleh Deris. Dia merasa bahwa sang ayah tidak pernah memujinya, entah apapun prestasi yang pernah dia buat. Memang agak menyebalkan. Tapi buatku itu adalah hal yang biasa. Bukan bermaksud untuk sombong- namun ketika SD aku sering mendapat rangking di kelas. What I got? Nothing but the books. Buku tulis.
Entah mungkin aku terlalu mensyukuri apa yang sudah aku dapat, atau ini bagian dari didikan orang tuaku, aku kurang mengerti. Atau mungkin saja aku terlalu takut untuk meminta lebih. Karena aku, sampai saat ini, jarang sekali meminta suatu hal secara to the point ke orang tua. Mungkin juga karena waktu kecil aku kepengen beli mainan ini itu, tapi bapak selalu menolak dengan nada yang tinggi. Mungkin rasa takut itu lah yang justru akhirnya membentuk akumulasi amarah namun tidak pernah berani untuk mengungkapnya.

Perasaan Deris ke ayahnya bisa aku bilang adalah hal yang wajar. Aku juga mengalami itu, dan puncaknya di masa SMP-SMA.
Perlu diketahui, bahwa kemarahan kita timbul kadang tanpa alasan yang jelas. Tidak spesifik. Kadang apapun yang dia ucapkan selalu kita cela.
Pada masa ini, aku sangat sering beradu argumen, tentang banyak hal, bahkan hanya soal sepakbola aku bisa sangat marah. Kemudian ada sikap atau tindakan yang membuatku juga lebih sering “nggrundel”. Kebiasaan bapakku yang paling aku benci adalah merokok. Ada seribu satu alasan mengapa aku menolak keras bapakku untuk tetap merokok.
Ada banyak alasan untuk membenci. Salah satu teman SMA ku juga memiliki kondisi yang sama. Dia tidak menyukai ayahnya karena sikap ke istri dan anak-anaknya yang kurang baik menurutnya.

Tapi semua itu ada titik balik. Ada satu yang harus mengalah. Percuma jika dua-duanya terus bersikeras, menjaga gengsinya. Jika yang tua sulit, harus dimulai oleh yang muda.
Bersyukur bahwa bapakku akhirnya mau berhenti merokok dan bisa beradaptasi dengan joke-joke yang ada dan tidak terlalu kaku. Bapakku dulu selalu memaksaku untuk masuk ke sekolah sepakbola yang bagus agar anaknya bisa menjadi pemain sepakbola profesional. Namun aku tidak bisa mewujudkan mimpinya itu.

Aku sendiri juga berpikir, “apa benar bapak kita tidak peduli dengan kita?”. Bapakku adalah orang yang mau membelikan anaknya Cheetos satu kardus, hanya demi kita bisa mengumpulkan Tazos, padahal waktu itu ekonomi keluarga kita masih susah. Bapakku adalah orang yang mau mengajak kami ke obyek wisata atau acara yang lagi ngetren di masyarakat hanya demi agar anaknya bisa nimbrung cerita dengan teman-temannya di sekolah dan tidak kudet. Bapakku adalah orang yang mengajariku tentang banyak hal, entah itu aku sadari atau tidak.

Mungkin sudah saatnya Der, untuk bisa legowo atau mengalah. Suatu saat kita akan menyadari bahwa kemarahan itu akan sia-sia. Syukuri bahwa orang tua masih diberi kesehatan dan masih bisa bekerja dan membiayai kita sekolah hingga setinggi ini. Abaikan gengsi dan ingat apa hal baik yang pernah dia lakukan kepada kita, apakah sudah sebanding dengan apa yang kita lakukan kepadanya? :))

Sunday, September 20, 2015

My New Family: The Early Days



Tulisan ini dibuat ketika semua teman-teman tim KKN saya sudah mulai sibuk dan kembali ke dunia masing-masing. Saya mau tidak mau harus memulai dunia Koas besok Senin, Azka sudah ada di Belgia, Eno bahkan sudah merencanakan kuliah S2, dan teman teman yang lain juga kembali sibuk di dunia perkuliahan dan tugas akhir. Tulisan yang disponsori oleh rasa kecemasan tentang masa depan. Tulisan yang disponsori kebersamaan di pondokan, seakan-akan pondokan hanya milik kita. Oh life!

Ini membuat saya throwback kembali ke 2-3 bulan yang lalu. Hampir semua mahasiswa FKH memilih KKN plotting (area DIY-Jateng perbatasan), dengan alasan dapat mengurus semua keperluan wisuda atau yang belum selesai urusan skripsi jadi lebih dekat dan mudah untuk ke kampus. Walaupun ada beberapa mahasiswa yang mengambil KKN sampai ke pelosok negeri.

Jujur saja, saya berdoa agar ditempatkan KKN dengan orang-orang baik. Perlu digaris bawahi: orang-orang baik. Dan suatu saat nanti saya bersyukur akan hal itu. Saya tidak berdoa untuk ditempatkan spesifik di satu tempat, atau saya pengen KKN bareng ‘my crush’ hehehe. Tapi waktu itu saya agak berharap (tapi tidak berdoa) agar dapat di daerah Bantul atau Sleman, yang mungkin kalo bolak-balik kampus atau rumah tidak terlalu jauh.

Saat itu, ketika plotting diumumkan, adalah beberapa hari menjelang PKL dimulai. Waktu itu saya cukup terkejut, atau bahkan sangat terkejut. Saya harus ditempatkan di Boyolali (Selo). Saya bertanya dalam hati “bukankah Boyolali itu di luar ‘orbit’ plotting?”. Ternyata salah, dan saya berpikir keras, saya cari di Google peta Boyolali, jarak tempuh ke sana, medan yang harus ditempuh, dsb. Yang saya dapati dari info melalui Google adalah jarak tempuh ke Selo kurang-lebih adalah 2 jam dari Jogja. Tapi ada juga yang bilang 1 jam. Itu belum waktu tempuh dari rumah ke Jogja sekitar 45 menit. Goooshh..

Pikiran saya yang harus fokus ke PKL tiba-tiba harus terbagi ke Boyolali. The unknown place. Kemudian selama PKL 2 minggu, mau tidak mau harus tetap mengikuti perkembangan tim KKN lewat Line. Saya lebih sering sebagai silent reader. Saya merasa tidak enak hati karena tidak ikut rapat dan segala macam dikarenakan PKL di Purwokerto.

Ketika PKL sudah selesai, ada hari dimana harus ketemu DPL untuk perkenalan dan pembahasan segala macamnya. Di situ kita juga mulai membahas apa saja yang perlu dibawa ketika di lokasi bersama teman-teman Subunit. Saat itu kumpul subunit masih di-handle Deris. Saat itu first impression saya adalah bahwa orang ini lucu, tapi kadang guyonannya agak sulit dipahami wkwk *sorry Der*. Untuk cowok yang lain, Akbar dan Dovi impresi pertama saya, kedua orang ini belum terlalu bisa ditebak. Kalau Nur memang sudah agak terlihat kepemimpinannya ketika rapat klaster, Dijan sama Eno juga belum terlihat kalo suatu saat nanti mereka bakalan freak xixixi, Titta juga masih terlihat pendiam-sama sekali pendiam. Sangat pendiam. Misterius.

Saya termasuk orang yang agak sulit untuk beradaptasi dengan orang-orang baru. Saya lebih banyak menutup diri terhadap orang yang baru dikenal. Termasuk terhadap teman-teman KKN saya. Bahkan mereka awalnya juga menganggap saya pendiam *bahkan mereka berekspektasi bahwa saya adalah lelaki gondrong dengan brewok*

Saat itu 2 Juli 2015. Kita semua diterima di kantor Kecamatan Selo dan segera ditempatkan di Dusun masing-masing. Saat itu kami disambut oleh beberapa ibu-ibu (apakah ini penggunaan kata yang tidak efektif? beberapa ibu-ibu?) di depan pondokan. Kemudian kita bersalaman dengan penuh keramahan *oh really?*. Kemudian kita mulai mempersiapkan segala macam keperluan untuk tinggal di sana. Pertama kita harus menentukan lokasi kamar, dan pembatas kamar untuk ganti baju dan tidur. Oh iya, ibu pondokan kita tidak bersedia untuk masakin makanan buat kita, takut tidak enak katanya. jadi mau gak mau kita harus masak sendiri, enak gak enak. Kemudian, di pondokan juga tidak ada kamar mandi. Yang ada hanya kamar mandi umum, dan lokasinya lumayan buat bikin kaki berotot. Kita juga harus mempersiapkan segala kebutuhan untuk memasak, termasuk alat dan bahan.
Selain itu, saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan dan di sana tidak ada Takjilan buat anak-anak. Saat itu kami juga dikejutkan dengan cara sholat Tarawih yang “berbeda” dari yang sering kita lakukan di Jogja atau di daerah masing-masing. Sholat dengan 2 rakaat secara estafet dan dengan kecepatan maksimum. Dan beberapa (hah? Beberapa? Sebagian besar mas!), eh iya, sebagian besar jamaah yang laki-laki baru datang ketika sholat Tarawih dimulai dan tidak mengikuti sholat Isya’ secara berjamaah. I don’t know..
Kemudian lagi, setelah sholat Tarawih kita diajak untuk Mujadahan (semacam Tahlilan yang dilakukan secara rutin tiap Malam Jumat di sana). Sungguh culture shock yang bertubi-tubi -_-

Tanggal 3 Juli 2015, hari pertama kita sahur bersama. Semua alarm dibunyikan saat itu. Dan lucunya adalah semua bangun sekitar pukul 2.30, terus masak sahur dan masih jaim untuk ambil nasi. Terus setelah makan sahur kebingungan mau ngapain, soalnya imsyak masih sekitar pukul 4.00 lebih. Hahahaha.
Pagi harinya, kita mencoba untuk “bersosialisasi”, yang cewek cewek basa-basi nanya soal ganyong dsb. Oh iya, si Dijan sama Vava gak bisa bahasa Jawa yang kadang mereka suka nanya ke saya. Siangnya pun beda lagi kegiatannya. Waktu itu hari Jumat, yang cowok Jumatan dan yang cewek harus Muslimatan (semacam Mujadahan tapi buat cewek *maybe). Another culture shock for us!

Oh iya, di 3 hari pertama Dovi belum dateng. Saya masih tidur bertiga sama Akbar sama Deris. Saya sama Deris masih mencoba “membuka” sosok Akbar dan lebih sering ngerjain dia. Akbar yang masih malu-malu untuk ketawa *yang giginya gak pernah keliatan* dan sok-sok menyimpan rahasia yang gak mau kalo saya certain ke temen-temen. Jadwal memasak dan cuci piring juga mulai dibentuk dan baru diberlakukan mulai hari Senin. Berbagai kegiatan juga mulai dikerjakan di awal minggu ini, kayak ngajarin matematika atau mapel lain ke anak-anak, atau ngajarin TPA dan beberapa juga ada yang mulai survei lokasi kayak si Deris sama Eno.

Ketika Dovi datang, formasi mulai berubah. Lokasi kamar mulai diubah, tas dipindah ke bawah dan dibuat ruangan sendiri atas saran pemilik pondokan. Yang tadinya cowok tidur bertiga sekarang berempat. Saya memilih untuk tidur di bawah, kasihan Dovi yang waktu itu masih sakit pas dateng ke lokasi KKN, jadi dia tidur bertiga bareng Akbar dan Deris.

Oh iya, salah satu hal krusial di sini selain culture shock adalah cold shock. Ketika awal dateng ke sini, semua langsung kedinginan. Makanya gak heran kalo mandi juga jarang-jarang, selain airnya juga minimalis. Hehehe

Selain itu, di minggu pertama kita juga masih berusaha menjadi yang terbaik buat orang-orang di sana. Kita juga mulai mengajukan ‘proposal’ ke ketua Dusun di sana yang akhirnya hampir memulai konflik antar program anak KKN hehehe *remember? rebutan lampu? oh come on, itu di rumah orang guys :))*. Kita mulai survei lokasi pemasangan lampu dan Deris mau mengajari cara bermain gitar ke mas Soebarjo alias Singat :)) *good old days, right Der? xixixi*
Pas pemasangan lampu mungkin ada cerita-cerita saat saya, Akbar dan Dijan ngobrol. Akbar mulai agak terbuka dengan berbagai cerita ‘undercover’-nya. Cerita yang katanya dia dulu anak IPA terus minta pindah ke kelas IPS, dia juga gak tahu Dijan itu jurusan apa, dsb.
Kebetulan, saat itu juga ternyata baru saja ada orang meninggal di sana, jadi tiap malem, sampai 7 hariannya, setelah sholat Tarawih, kita yang cowok-cowok harus ikut yang namanya “Pida’an”.Dan di hari ketujuh, cewek cewek juga harus bantuin REWANG. Yeah, the story begins :))
Anak-anak baik yang suatu saat akan sadar dimana letak batas sabar itu :))


Di minggu yang pertama ini, kita semua masih berusaha untuk jadi good boys and girls di mata warga. Kita sangat taat dalam mengikuti semua kegiatan warga, gak pernah absen.
Untuk kepribadian masing-masing kita belum terlalu saling mengenal baik satu sama lain. saya masih "bersembunyi" dan meraba-raba kapan waktu yang tepat untuk keluar. Masing-masing masih agak terlihat menutup-nutupi, mungkin kecuali Dijan sama Deris yang sangat terbuka dan lumayan kelihatan aslinya hehehe.
Cerita ini pasti akan berlanjut dengan beberapa kisah yang mungkin sudah tidak urut sesuai timeline karena faktor ingatan yang pendek dan lebih banyak ke cerita-cerita yang berkesan. See ya :)

Saturday, May 23, 2015

Dihantui Spandau Ballet



Selamat malam semua. Kali ini saya kembali dengan sebuah cerita, yang InsyaAllah bukan tentang kesedihan lagi hehehe.

Beberapa hari yang lalu, saya menonton sebuah acara berita di M*tro TV, dimana saya suka nonton bagian akhirnya, karena biasanya suka menampilkan berita yang ringan, seperti tentang olahraga, film atau musik.
Nah, saat itu ada sebuah berita tentang konser Spandau Ballet di Perth, Australia. Dalam hati saya, “who the hell are they?”
Jujur saja saya belum pernah dengar nama band ini. Maafkeun para fans Spandau Ballet.

woi, itu dua dari kanan ngapain? pada ngetawain saya ya?

Kemudian setelah berita itu ditayangkan, diputarlah salah satu video klip Spandau Ballet yang berjudul True. Baru di situ saya tahu kalo saya pernah dengar lagu ini, terutama bagian intro-nya yang “ha-ha-ha-ha-hai”. Sering dengar di acara Cozy Corner-nya Swaragama FM (yang notabene acara full-musik tanpa penyiar, jadi tidak pernah ada pemberitahuan ini lagu siapa). Jadi maklumi saya jika saya tidak tahu siapa itu Spandau Ballet.

Beberapa hari kemudian, saya berencana memperbaiki handphone saya yang rusak getarannya. Dan menurut rekomendasi teman saya lebih baik servis di Ramai Mall, Malioboro saja. Dan benar saja, servisnya cepat (tapi harganya yang cukup menguras kantong). Nah, ketika di area Mall tersebut diputarlah berbagai lagu era 80-an. Yang saya ingat adalah lagu Duran-Duran, kemudian beberapa lagu selanjutnya, muncullah: SPANDAU BALLET dengan TRUE-nya. Ya Allah, lagu ini kenapa muncul lagi.

Beberapa hari kemudian, saya iseng buka facebook. Kemudian saya melihat sebuah judul artikel dari HelloGiggles yang akhirnya saya klik. Intinya tentang 13 saran dalam menjalani hubungan percintaan. Di salah satu saran ada bagian film The Wedding Singer dimana Adam Sandler nyanyi buat Drew Barrymore (kali ini saya tahu lagunya tapi belum pernah nonton film-nya). Alhasil saya klik video adegan tersebut. Setelah Adam Sandler nyanyi, tiba-tiba sebuah musik iringan masuk. Dan lagi-lagi, itu adalah True-nya Spandau Ballet. Sungguh saya dihantui.

Ada makna tersembunyi apa di balik lagu True ini? Apakah ini pesan yang dikirim Tuhan kepada saya. Kemudian saya searching makna lagu ini, dan menurut Gary Kemp, sebagai penulis lagu ini, kurang lebih seperti ini:

“It became a song about trying to write a love song to someone who didn't know your true thoughts, but how difficult it is to spell out your feelings without seeming too foolish."

Nah! Bagaimana mengungkapkan perasaan kita yang sesungguhnya kepada seseorang tanpa terlihat memalukan. Tuhan memang ajaib! Tuhan telah mengirimkan “wahyu” kepada saya hehehe. Tahu saja apa yang sedang ada dalam pikiran saya :)

Daripada bingung, mari kita tonton saja video klipnya :)


Tuesday, May 19, 2015

Random Sadness



Maafkeun sebelumnya bahwasanya bahasa Inggris saya berantakan, paling tidak saya lebih merasa bebas untuk menyampaikan semua hehehe.

Hello again, it’s me again back to the “old me”, someone who has disappeared since 4 years ago. Someone who tried to throw all the bad things away and try to be a good person as people see. It’s been a long time since I covered up all my sadness and kind of thing. I never write about my sadness in this blog anymore until today. A sadness without reason.

Maybe, just maybe, some people see me as a cheerful person, as a funny people. But maybe some people who don’t know me, they’ll judge me as a quiet person or even cocky person. Maybe the truth is that I am the bad person who tried to be good in front of people.

I don’t remember the last time I share my thought or even my feeling to my friends (or I should call them best friend). I don’t even remember what is ‘best friend’?! Someone who always remember my birthday? Or someone who always share their sadness and happiness at the same time?

Best is relative. If you find something better, the standard of “best” is changing too. Your “best” friend in middle school or high school maybe had a better friend. They who always share things with you, who always text you first when they need to tell stories. But where are they now? A person that I thought as a “best” friend never say “happy birthday” in 3 years I think. Or maybe a person who chat me just to tell me the story about her boyfriend who cheated on her. I used to be an extrovert boy. But now, I called myself as an introvert.

Four years. I never find a “best” friend anymore. And in this time I decided to see my friends equally as a friend. Just a friend; good or bad. But never be the “best”.

And in this “four years” I never try too hard to get close to the girls. I don’t know why. I love being alone. There’s no “contract”. I love watching football, talking about it with the boys. I love listening to some-not-really-popular music. I love watching some “IMDB’s 250 best movies” or some good movies.

But that’s all shit. I’m just kind a selfish person or actually I’m not trying hard enough? I’m not a popular kid, not a handsome kid. I never become an athlete in the faculty. Futsal? Badminton? Volleyball? People never see me playing those sports. I never become an active person who always meet some people. I am a passive person. Some friends always asked me why I always go home earlier, and I’m kind a bored with that question. Not your business.

Become a fat, poor and ugly boy is never easy to get girls. Kaiser Chiefs once said that “Love is not a competition”, but I’m always losing. That’s the different between me and that song. The first 3 years, I never do something “progressive” to get the girls. I tried to know every detail or characters of the people. But I don’t know why, in these last few months, I tried to find that missing piece again. But again, maybe I’m not trying hard enough. I think I should give up. It’s too hard to find the similarity between us. Maybe I’m just a sucks person. Maybe I’m just not her type. Maybe I’m a boring person. Maybe I can’t buy her something expensive. Maybe I never go to a fine restaurant in town. Maybe I’m just too sensitive or maybe I’m just too naïve. And I think I have to go find another “home”.

Yes I’m a naïve person. And this is my sadness. Thank you.

“The sadness will never go away” Van Gogh (Suicide note)

Mungkin sebagian orang ketika membaca tulisan ini akan menertawakan saya. Tapi apa daya, ini adalah cara terbaik mengungkapkan perasaan hati paling bebas ketika teman anda tidak mampu lagi “menampung” anda :)