Thursday, January 29, 2015

Are You Ready for Instagram?



Hello 2015, sudah lama sekali blog ini tidak ditinggali penghuninya. Setelah hanya ganti desain menjadi lebih simple, blog ini sudah tidak pernah diperbaharui dengan tulisan baru.

Entah sudah berapa bulan sejak terakhir kali saya menulis cerita yang mengandung unsur komedi (entah sedikit lucu atau sangat garing). Kalau dulu teman SMP atau SMP bisa jadi bahan komedi tulisan saya, sekarang my whole life is a comedy, instant karma!
Tulisan saya kali ini juga masih bukan komedi, justru lebih ke arah keresahan. Kalau kata Raditya Dika sih materi yang bagus adalah materi yang berasal dari keresahan, semoga tulisan ini bagus (tapi kan ini bukan stand up comedy?!), yah iya-in aja lah.

Saat ini mungkin Udin bisa menertawakan saya. Dulu kita sama sama menertawakan kebijakan Instagram yang tidak akan bertanggung jawab terhadap foto yang kita posting jika saja ada pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan foto kita tanpa seizin kita. Saat itu kita sama sama tidak punya akun instagram. Saat ini saya tidak tahu apakah dia punya atau tidak, tapi yang jelas saya harus menjilat ludah saya sendiri karena harus bertanggung jawab terhadap foto saya sendiri.

Ya, finally I’m on instagram. Sejak ada aplikasi Bluestacks di PC, orang yang tidak memiliki smartphone android seperti saya bisa tertolong. Kemudian berlanjut ketika saya (Alhamdulillah) bisa mendapatkan hape yang berbasis android. Kemudian kenapa akhirnya saya ada di instagram? Awalnya cuma pengen mengabadikan momen, keindahan alam atau apapun itu yang bisa saya bagikan kepada semua orang, yang kemudian saya punya kekurangan akan hal itu (akan dijelaskan lebih lanjut nanti). Kemudian berlanjut untuk tujuan lain, yaitu untuk branding my self, portofolio, dsb. Barangkali ada yang tertarik membeli/ order/ bekerjasama dengan saya untuk dibuatkan desain/ilustrasi/logo, yang sampai saat ini masih belum ada (yang banyak justru minta I’m working for free). Tapi apakah instagram merupakan habitat yang cocok bagi saya?
A photo posted by Eric Setyo Nugroho (@ercsty) on

Lanjutan dari pernyataan di atas, ketika saya pengen mengabadikan momen bla bla bla ternyata punya banyak kekurangan bagi saya. Pengennya saya, bisa menghasilkan foto dengan kualitas yang bagus. Sekali lagi pengennya, tapi apa daya, mungkin karena saya beli hapenya juga gegabah tanpa memperhatikan spesifikasi kamera, jadi hasilnya juga gak maksimal seperti yang diharapkan. Jadi kendala ketika saya suka datang ke acara band-bandan dan berdiri agak jauh dari panggung jadi gak bisa dapet foto yang bagus, kalo di-zoom juga pecah. Banyak teman teman di instagram yang mengambil gambarnya dengan iPh*ne atau dengan kamera DSLR yang kualitasnya jauh lebih bagus, itu juga kadang masih pake #vsco #vscocam . Ya meskipun begitu, banyak juga (atau paling gak ada) yang kualitasnya seadanya dengan saya.

Kemudian, apa objek yang cocok untuk diposting di instagram? Tentu saja keindahan alam, seperti pantai, gunung, atau foto di atas papan di Kalibiru, atau air terjun di daerah utara Kulonprogo dan wisata alam lainnya. Kemudian objek wisata lain non-alam, seperti sekaten, atau bangunan bersejarah, museum, dsb. Kemudian juga #selfie, yang memenuhi feed instagramnya. Dan masih banyak lagi seperti foto mainan, makanan (yang juga banyak), aktivitas olahraga (sepakbola, futsal, skateboard, dsb.)
And then, what’s the problem? There’s no problem at all. Namun kemudian muncul suatu kebiasaan yang terlihat di kolom komentar dari para followers. Misalnya lagi foto di suatu tempat, template yang muncul adalah “ini dimana?”, yang kadang sudah tertulis di captionnya, dan bertanya tanpa membaca terlebih dahulu. Dan kemudian beberapa hari/beberapa minggu kemudian foto di tempat yang sama. Photo profile hunter, hehehe.
Sayangnya, sebagai orang yang kaku, saya tidak pernah kemudian tertarik untuk mengikuti trend, yang kemudian pregi travelling kemana atau mendaki kemana. Bukan tidak mau, tapi lagi-lagi soal fulus dan teman yang diajak (kebanyakan teman saya memiliki latarbelakang ekonomi yang 11-12 dengan saya, terbatas. Walaupun ada juga yang mampu, tapi saya gak bisa mengikuti gaya hidupnya; dan pasti tidak terlalu akrab). Meskipun alasan saya tadi bisa saja kalian bantah dengan ungkapan “jika travelling itu gratis, maka kamu tidak akan pernah menemukanku lagi”. Tapi ya gitu, belum berpenghasilan dan tidak punya background untuk jalan-jalan hehehe :)).

Kemudian pasti juga ada yang follow, entah-apa-namanya, artis instagram atau apa. Yang kebanyakan adalah dedek dedek gemesh yang foto di cafĂ© atau pake background tembok warna pastel atau pagar dedaunan ala-ala labirin dengan kaos Arctic Monkeys atau Coldplay. Just FYI, kaos kaos band macam Arctic Monkeys, Coldplay, Chvrches, dan beberapa band lain itu susah didapet di Indonesia. Bukan gak bisa, tapi kebanyakan reseller Indonesia gak ambil, terutama yang dari Inggris, soalnya pajaknya tinggi, sampai di Indonesia kemungkinan harga bisa di atas 500 ribu. Kalau ada yang ambil, biasanya bukan seller besar, lebih ke special order atau kolektor yang kebetulan nawarin mau ikut pesen atau gak. Dibandingkan dengan kaos yang lebih populer seperti Metallica, Iron Maiden, dsb. yang lebih terjangkau (sekitar 250 ribu) – band hardcore/ punk/ metal memang lebih terjangkau. Jadi apa kesimpulannya? Kemungkinan kaos macam Arctic Monkeys yang beredar dan dipakai dedek dedek gemesh tadi adalah bootleg (kata kasarnya adalah bajakan). Itu sama kayak kamu screenshot winamp berisi mp3 download-an yang kamu banggakan dan posting ke instagram hehehe :))

Kemudian tentang ‘like’. Ada suatu kode tidak tertulis bagi saya pribadi, yaitu likes for likes. Jika ada yang menyukai foto saya, InshaAllah saya juga akan menghargai foto yang dia post. Kebanyakan teman teman saya atau adek kelas saya dari daerah Wates/ Kulonprogo menerapkan hal itu juga #BigRespect. Tapi tidak semua orang menerapkan hal seperti itu, walaupun teman kita sendiri. Sudah kita like sekian banyak fotonya, tapi tidak pernah like foto kita sekali saja. Tapi saya sadar diri, mungkin karena itu tadi, foto saya kurang layak atau kurang artsy bagi mereka, hehehe :))

Untuk postingan saya sendiri ya itu tadi. Kurang artsy lah. Kebanyakan karya-karya seadanya yang likes-nya tidak pernah lebih banyak dari doodle hitam putih bergaya monster unyu (dan tidak pernah ditawari order tentu saja), atau sekedar foto CD/kaset yang saya posting sebagai bentuk apresiasi terhadap musisi favorit saya dan menunjukkan bahwa masih ‘ada lho orang yang membeli rilisan fisik’, tidak melulu download (entah legal maupun illegal). Dan beberapa random things lainnya. Dan satu lagi, instagram saya tidak pernah saya gembok alias private. Boro-boro private, public aja yang follow dan like dikit, apalagi dirahasiakan, I'm not that special :))

Yah begitulah, mungkin instagram cuma bisa buat senang-senang bagi saya, menikmati keindahan alam yang dibagikan oleh teman-teman dan suatu saat akhirnya bisa mengunjunginya, atau sekedar mengagumi karya-karya desain/ilustrasi favorit tanpa harus meminta untuk difolbek. Jauh dari kata mampu untuk menandingi temen temen dengan kualitas foto jempolan (y)

Tapi kalo ada yang mau follow sih silahkan, misalnya sekiranya saya belum kenal, mintalah untuk difolbek ke saya, akan saya folbek dengan senang hati, dan tentu saja: #LikesforLikes :))

Instagram.com/ercsty 
Instagram

1 comment:

nndmhrdk said...

Jilak ik..aku yo lagi wae instagram wingi sore cuyy
koe wes tak follow hehhee