Sunday, September 20, 2015

My New Family: The Early Days



Tulisan ini dibuat ketika semua teman-teman tim KKN saya sudah mulai sibuk dan kembali ke dunia masing-masing. Saya mau tidak mau harus memulai dunia Koas besok Senin, Azka sudah ada di Belgia, Eno bahkan sudah merencanakan kuliah S2, dan teman teman yang lain juga kembali sibuk di dunia perkuliahan dan tugas akhir. Tulisan yang disponsori oleh rasa kecemasan tentang masa depan. Tulisan yang disponsori kebersamaan di pondokan, seakan-akan pondokan hanya milik kita. Oh life!

Ini membuat saya throwback kembali ke 2-3 bulan yang lalu. Hampir semua mahasiswa FKH memilih KKN plotting (area DIY-Jateng perbatasan), dengan alasan dapat mengurus semua keperluan wisuda atau yang belum selesai urusan skripsi jadi lebih dekat dan mudah untuk ke kampus. Walaupun ada beberapa mahasiswa yang mengambil KKN sampai ke pelosok negeri.

Jujur saja, saya berdoa agar ditempatkan KKN dengan orang-orang baik. Perlu digaris bawahi: orang-orang baik. Dan suatu saat nanti saya bersyukur akan hal itu. Saya tidak berdoa untuk ditempatkan spesifik di satu tempat, atau saya pengen KKN bareng ‘my crush’ hehehe. Tapi waktu itu saya agak berharap (tapi tidak berdoa) agar dapat di daerah Bantul atau Sleman, yang mungkin kalo bolak-balik kampus atau rumah tidak terlalu jauh.

Saat itu, ketika plotting diumumkan, adalah beberapa hari menjelang PKL dimulai. Waktu itu saya cukup terkejut, atau bahkan sangat terkejut. Saya harus ditempatkan di Boyolali (Selo). Saya bertanya dalam hati “bukankah Boyolali itu di luar ‘orbit’ plotting?”. Ternyata salah, dan saya berpikir keras, saya cari di Google peta Boyolali, jarak tempuh ke sana, medan yang harus ditempuh, dsb. Yang saya dapati dari info melalui Google adalah jarak tempuh ke Selo kurang-lebih adalah 2 jam dari Jogja. Tapi ada juga yang bilang 1 jam. Itu belum waktu tempuh dari rumah ke Jogja sekitar 45 menit. Goooshh..

Pikiran saya yang harus fokus ke PKL tiba-tiba harus terbagi ke Boyolali. The unknown place. Kemudian selama PKL 2 minggu, mau tidak mau harus tetap mengikuti perkembangan tim KKN lewat Line. Saya lebih sering sebagai silent reader. Saya merasa tidak enak hati karena tidak ikut rapat dan segala macam dikarenakan PKL di Purwokerto.

Ketika PKL sudah selesai, ada hari dimana harus ketemu DPL untuk perkenalan dan pembahasan segala macamnya. Di situ kita juga mulai membahas apa saja yang perlu dibawa ketika di lokasi bersama teman-teman Subunit. Saat itu kumpul subunit masih di-handle Deris. Saat itu first impression saya adalah bahwa orang ini lucu, tapi kadang guyonannya agak sulit dipahami wkwk *sorry Der*. Untuk cowok yang lain, Akbar dan Dovi impresi pertama saya, kedua orang ini belum terlalu bisa ditebak. Kalau Nur memang sudah agak terlihat kepemimpinannya ketika rapat klaster, Dijan sama Eno juga belum terlihat kalo suatu saat nanti mereka bakalan freak xixixi, Titta juga masih terlihat pendiam-sama sekali pendiam. Sangat pendiam. Misterius.

Saya termasuk orang yang agak sulit untuk beradaptasi dengan orang-orang baru. Saya lebih banyak menutup diri terhadap orang yang baru dikenal. Termasuk terhadap teman-teman KKN saya. Bahkan mereka awalnya juga menganggap saya pendiam *bahkan mereka berekspektasi bahwa saya adalah lelaki gondrong dengan brewok*

Saat itu 2 Juli 2015. Kita semua diterima di kantor Kecamatan Selo dan segera ditempatkan di Dusun masing-masing. Saat itu kami disambut oleh beberapa ibu-ibu (apakah ini penggunaan kata yang tidak efektif? beberapa ibu-ibu?) di depan pondokan. Kemudian kita bersalaman dengan penuh keramahan *oh really?*. Kemudian kita mulai mempersiapkan segala macam keperluan untuk tinggal di sana. Pertama kita harus menentukan lokasi kamar, dan pembatas kamar untuk ganti baju dan tidur. Oh iya, ibu pondokan kita tidak bersedia untuk masakin makanan buat kita, takut tidak enak katanya. jadi mau gak mau kita harus masak sendiri, enak gak enak. Kemudian, di pondokan juga tidak ada kamar mandi. Yang ada hanya kamar mandi umum, dan lokasinya lumayan buat bikin kaki berotot. Kita juga harus mempersiapkan segala kebutuhan untuk memasak, termasuk alat dan bahan.
Selain itu, saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan dan di sana tidak ada Takjilan buat anak-anak. Saat itu kami juga dikejutkan dengan cara sholat Tarawih yang “berbeda” dari yang sering kita lakukan di Jogja atau di daerah masing-masing. Sholat dengan 2 rakaat secara estafet dan dengan kecepatan maksimum. Dan beberapa (hah? Beberapa? Sebagian besar mas!), eh iya, sebagian besar jamaah yang laki-laki baru datang ketika sholat Tarawih dimulai dan tidak mengikuti sholat Isya’ secara berjamaah. I don’t know..
Kemudian lagi, setelah sholat Tarawih kita diajak untuk Mujadahan (semacam Tahlilan yang dilakukan secara rutin tiap Malam Jumat di sana). Sungguh culture shock yang bertubi-tubi -_-

Tanggal 3 Juli 2015, hari pertama kita sahur bersama. Semua alarm dibunyikan saat itu. Dan lucunya adalah semua bangun sekitar pukul 2.30, terus masak sahur dan masih jaim untuk ambil nasi. Terus setelah makan sahur kebingungan mau ngapain, soalnya imsyak masih sekitar pukul 4.00 lebih. Hahahaha.
Pagi harinya, kita mencoba untuk “bersosialisasi”, yang cewek cewek basa-basi nanya soal ganyong dsb. Oh iya, si Dijan sama Vava gak bisa bahasa Jawa yang kadang mereka suka nanya ke saya. Siangnya pun beda lagi kegiatannya. Waktu itu hari Jumat, yang cowok Jumatan dan yang cewek harus Muslimatan (semacam Mujadahan tapi buat cewek *maybe). Another culture shock for us!

Oh iya, di 3 hari pertama Dovi belum dateng. Saya masih tidur bertiga sama Akbar sama Deris. Saya sama Deris masih mencoba “membuka” sosok Akbar dan lebih sering ngerjain dia. Akbar yang masih malu-malu untuk ketawa *yang giginya gak pernah keliatan* dan sok-sok menyimpan rahasia yang gak mau kalo saya certain ke temen-temen. Jadwal memasak dan cuci piring juga mulai dibentuk dan baru diberlakukan mulai hari Senin. Berbagai kegiatan juga mulai dikerjakan di awal minggu ini, kayak ngajarin matematika atau mapel lain ke anak-anak, atau ngajarin TPA dan beberapa juga ada yang mulai survei lokasi kayak si Deris sama Eno.

Ketika Dovi datang, formasi mulai berubah. Lokasi kamar mulai diubah, tas dipindah ke bawah dan dibuat ruangan sendiri atas saran pemilik pondokan. Yang tadinya cowok tidur bertiga sekarang berempat. Saya memilih untuk tidur di bawah, kasihan Dovi yang waktu itu masih sakit pas dateng ke lokasi KKN, jadi dia tidur bertiga bareng Akbar dan Deris.

Oh iya, salah satu hal krusial di sini selain culture shock adalah cold shock. Ketika awal dateng ke sini, semua langsung kedinginan. Makanya gak heran kalo mandi juga jarang-jarang, selain airnya juga minimalis. Hehehe

Selain itu, di minggu pertama kita juga masih berusaha menjadi yang terbaik buat orang-orang di sana. Kita juga mulai mengajukan ‘proposal’ ke ketua Dusun di sana yang akhirnya hampir memulai konflik antar program anak KKN hehehe *remember? rebutan lampu? oh come on, itu di rumah orang guys :))*. Kita mulai survei lokasi pemasangan lampu dan Deris mau mengajari cara bermain gitar ke mas Soebarjo alias Singat :)) *good old days, right Der? xixixi*
Pas pemasangan lampu mungkin ada cerita-cerita saat saya, Akbar dan Dijan ngobrol. Akbar mulai agak terbuka dengan berbagai cerita ‘undercover’-nya. Cerita yang katanya dia dulu anak IPA terus minta pindah ke kelas IPS, dia juga gak tahu Dijan itu jurusan apa, dsb.
Kebetulan, saat itu juga ternyata baru saja ada orang meninggal di sana, jadi tiap malem, sampai 7 hariannya, setelah sholat Tarawih, kita yang cowok-cowok harus ikut yang namanya “Pida’an”.Dan di hari ketujuh, cewek cewek juga harus bantuin REWANG. Yeah, the story begins :))
Anak-anak baik yang suatu saat akan sadar dimana letak batas sabar itu :))


Di minggu yang pertama ini, kita semua masih berusaha untuk jadi good boys and girls di mata warga. Kita sangat taat dalam mengikuti semua kegiatan warga, gak pernah absen.
Untuk kepribadian masing-masing kita belum terlalu saling mengenal baik satu sama lain. saya masih "bersembunyi" dan meraba-raba kapan waktu yang tepat untuk keluar. Masing-masing masih agak terlihat menutup-nutupi, mungkin kecuali Dijan sama Deris yang sangat terbuka dan lumayan kelihatan aslinya hehehe.
Cerita ini pasti akan berlanjut dengan beberapa kisah yang mungkin sudah tidak urut sesuai timeline karena faktor ingatan yang pendek dan lebih banyak ke cerita-cerita yang berkesan. See ya :)

1 comment:

sherlina halim said...

Pengen yang lebih seru ...
Ayo kunjungi www.asianbet77.com
Buktikan sendiri ..

Real Play = Real Money

- Bonus Promo Red Card pertandingan manapun .
- Bonus Mixparlay .
- Bonus Tangkasnet setiap hari .
- New Produk Sabung Ayam ( minimal bet sangat ringan ) .
- Referal 5 + 1 % ( seumur hidup ) .
- Cash Back up to 10 % .
- Bonus Royalty Rewards setiap bulan .

Untuk Informasi lebih jelasnya silahkan hubungi CS kami :
- YM : op1_asianbet77@yahoo.com
- EMAIL : melasian77cs@gmail.com
- WHATSAPP : +63 905 213 7234
- WECHAT : asianbet_77
- SMS CENTER : +63 905 209 8162
- PIN BB : 2B4BB06A / 28339A41

Salam Admin ,
asianbet77.com

Download Disini