Tuesday, July 25, 2017

Derita Chester, Derita Kita Semua



Waktu itu Jumat pagi, belum maksimal betul mata ini membuka, masih terasa mengantuk sambil tiduran dan aktivitas seperti biasa, mendengarkan Swaragama FM tiap pagi. Tiba tiba Acil dan Cici mengabarkan bahwa Chester Bennington meninggal dunia di usia 41 tahun.
Jujur saja, otak saya belum mampu dan tidak mau mencerna berita semacam itu. Baru setelah saya googling memang benar bahwa Chester meninggal karena bunuh diri. Sungguh dalam hati saya kecewa, kenapa harus secepat ini?!

Saya dan Chester dan rekan di Linkin Park bisa dikatakan adalah teman. Ketika saya beranjak remaja, mereka adalah pengisi hari-hari dimana MTV masih berjaya. Dimana saya mengagumi video klip ‘In The End’, cover album ‘Re-Animation’ yang keren, album Meteora yang ciamik dengan lagu macam Somewhere I Belong dan Numb yang secara legendaris dinyanyikan di audisi Indonesian Idol itu. Bahkan ketika saya SD saya menuliskan judul judul lagu mereka di balik halaman buku tulis *yang padahal saya juga ga semua tau lagunya* yang judul judul lagi itu saya dapat dari daftar ringtone HP yang dulu masih bayar mahal dan ngiklan di Tabloid Bola dan Majalah ‘Gaul’. Beranjak dewasa musik Linkin Park mulai meredup seiring turunnya pamor jenis musik Nu Metal yang ditandai mulai redupnya karir band sebaya mereka macam Korn dan Limp Bizkit. Tapi Linkin Park masih bisa bertahan, bahkan hingga hari ini walaupun hits single nya tidak sebanyak dan se-booming era 2000-an awal. Dari yang ‘hanya’ mengisi soundtrack film Transformers, hingga terakhir yang mengikuti style musik jaman sekarang dengan berkolaborasi bersama Kiiara dan Stormzy. Dari situ banyak orang banyak berspekulasi.

Banyak yang mengatakan salah satu penyebab Chester bunuh diri adalah tekanan dan tuntutan yang terlalu tinggi. Dimulai dari album setelah Minutes to Midnight banyak yang mulai kecewa dengan kualitas scream dia yang mulai menurun. Mungkin terakhir kali mendengar suara lantang Chester adalah di lagu ‘Bleed it Out’, banyak pasti yang merindukan performa maksimalnya di lagu ‘Crawling’ yang memenangkan Grammy. Paling baru adalah kritik yang terlalu tajam menuju pada performa LP ketika musik mereka terlalu lembut dan terlalu pop dengan lagu ‘Heavy’. Saya juga salah satu yang kecewa pada saat lagu itu pertama keluar jujur saja. Tapi mungkin bisa jadi saya juga adalah orang yang menambah pikiran Chester dengan menghujani kritik. Sudah jadi rahasia umum kalo Chester adalah seorang pecandu alkohol dan obat-obatan. Teman temannya pun berusaha menjauhkannya dari itu. Try to ‘Breaking the Habit’.

Baru baru ini kita juga ditinggal Chris Cornell (Soundgarden; Audioslave), juga karena bunuh diri. Kemudian apa yang bisa kita ambil dari kejadian Chester ini? Data menunjukkan bahwa dalam satu tahun ada 44.000 kasus bunuh diri di Amerika saja (data American Foundation for Suicide Prevention). Dari data itu ada fakta yang sebenarnya cukup mengejutkan, bahwa para pria cenderung 3.5 kali lebih berpotensi untuk melakukan bunuh diri dibanding wanita. Bahkan di Britania Raya sendiri, 75% kasus bunuh diri dilakukan oleh para pria. Penelitian menunjukkan bahwa pria memang lebih rentan mengalami gangguan mental akibat ketidakmampuan mereka untuk ‘menahan’ penderitaan sekuat wanita. Banyak kasus bunuh diri adalah akumulasi beban hidup yang sudah terlalu menumpuk, baik beban secara mental, dari perilaku fisik, verbal maupun kondisi situasional atau lingkungan.

Chester adalah seorang pria dengan sejarah depresi dan ketergantungan obat obatan yang cukup panjang. Dan membuat musik adalah salah satu pelariannya agar tetap di jalan positif. Gangguan mental memang bukan hal yang main-main, mereka adalah ancaman bagi para pria, termasuk juga saya. Orang-orang yang selalu terlihat happy di kesehariannya mungkin saja dia sebenarnya bukan dalam kondisi yang senang, mungkin mereka tertekan, mereka menahan. Jangan sampai mereka melampiaskan hal itu ke jalan yang salah seperti bunuh diri. Dampingi mereka, ajak bicara dan selesaikan masalah secara baik baik. Seperti yang pernah dikatakan oleh Chris Cornell beberapa tahun lalu sebelum dia meninggal, ‘Jika depresi sudah terjadi dalam waktu lama kamu akan merasa nyaman, kamu akan memakluminya’. Tugas kita bersama agar kita jangan sampai terlalu nyaman dengan kondisi itu, kita lebih baik sharing masalah kita dengan orang lain agar pikiran bisa menjadi lebih lega.

Setelah kematian Chester, saya berpikir, apakah lagu ‘Heavy’ adalah suicide note nya Chester. Liriknya dalam, seakan beban yang ditanggung dia begitu berat. Tapi kemudian setelah itu saya coba dengar lagi lagu-lagu lama LP, sambil diresapi liriknya, ternyata banyak yang isinya adalah tentang depresi, keputusasaan, kekecewaan, dsb. yang nuansanya dark.

Rest in Paradise, Chester Bennington. Terimakasih telah menyuarakan berbagai keresahan kami. Semoga perjuangan dan pengorbananmu membawa dampak positif bagi semua orang di masa depan.